Jerit Sunyi dari Wajah-Wajah yang Dibungkam

Seniman pantomim Wanggi Hoed melakukan aksi dalam rangka Hari Primata Indonesia untuk perlindungan terhadap satwa di depan Tugu Patung Maung, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Kamis (30/1). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Seniman pantomim Wanggi Hoed melakukan aksi dalam rangka Hari Primata Indonesia untuk perlindungan terhadap satwa di depan Tugu Patung Maung, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Kamis (30/1). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Sebab, dalam kesunyian pantomim, ada jeritan yang lebih lantang dari sekadar suara.

Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.

WAJAHNYA berlapis cat putih, mulutnya tertutup, matanya dibalut kain hitam. Tubuhnya dibalut jaket kuning mencolok, berdiri tegap di trotoar Kota Bandung, di depan Tugu Patung Maung, Jalan Perintis Kemerdekaan. Di kedua tangannya, poster berukuran besar bertuliskan seruan keras: “Hentikan Ekspor Monyet!!!” dan “Tetapkan Monyet sebagai Satwa Dilindungi.”

Adalah Wanggi Hoed, seorang seniman pantomim yang hari itu, Kamis (30/1) siang, memilih tak bersuara—tetapi suaranya menggema ke seluruh penjuru kota.

Baca Juga:LBH Tatar Galuh Ciamis Siap Beri Pendampingan Hukum bagi Korban Penipuan Program MBGPj Gubernur Jabar Masih Cari Solusi Penolakan Imbauan Penahanan Ijazah Sekolah Swasta

Penutup mata adalah simbol bahwa warga dunia masih menutup diri tentang primata berjenis beruk dan ekor mata. Menurutnya, kerja-kerja konservasi satwa masih juga diabaikan. Padahal manusia butuh hutan, primata serta fauna lainnya.

“Tapi mereka selalu menutup mata. Apakah (tutup mata) terus menerus sampai kita menengok kerusakan lainnya?” tanya Wanggi.

Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Primata Indonesia. Wanggi, yang selama ini dikenal sebagai aktivis seni, ingin menarik perhatian publik terhadap nasib primata yang terus dieksploitasi. Monyet-monyet yang semestinya bebas di alam justru menjadi komoditas: diperdagangkan, diburu, disiksa, bahkan diekspor untuk kepentingan biomedis.

“Ini merupakan salah satu gerakan solidaritas aksi peduli monyet atau primata. Setiap tahun akan terus diserukan agar ditetapkannya monyet beruk dan ekor panjang sebagai hewan dilindungi,” ungkapnya.

Di sekeliling Wanggi, poster-poster lain bertengger di tembok dan pagar. Sebuah kain kuning bertuliskan “No Penindasan” tercoret merah, menjadi peringatan bahwa kebebasan bagi primata bukanlah perkara sepele.

Poster lain menunjukkan gambar memilukan: seekor monyet dengan tatapan kosong, tubuhnya ditarik paksa oleh tangan manusia. “Stop ekspor, perburuan, penyiksaan, perdagangan, pemeliharaan, topeng monyet,” demikian bunyi tuntutan yang tertulis jelas.

“Sejak 2014 sebetulnya Bandung sudah diminta untuk membangun taman primata. Sebagai bagian edukasi bagi masyarakat. Tapi sampai saat ini tidak terealisasi,” jelasnya.

0 Komentar