Fenomena ini menghidupkan kembali perdebatan tentang work from home (WFH).
Beberapa pihak berpendapat bahwa WFH dapat meningkatkan produktivitas, sementara yang lain khawatir dengan tingkat keterlibatan karyawan.
Sebuah laporan dari Gallup bertajuk State of the Global Workplace memberikan wawasan menarik tentang hal ini.
Studi tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 62% pekerja di seluruh dunia tidak sepenuhnya terlibat dalam pekerjaan mereka. Bahkan, 15% di antaranya secara aktif tidak terlibat.
Baca Juga:Cara Registrasi Akun SNPMB Sekolah 2025 dan Pengisian PDSSPendaftaran PPPK Tahap 2 Diperpanjang, ini Jadwal Barunya
Mereka yang tidak terlibat aktif ini biasanya merasa tidak puas dengan pekerjaan atau manajer mereka dan secara aktif mencari peluang kerja baru.
Bagi perusahaan, kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk mengelola kebijakan WFH dengan lebih baik, termasuk menciptakan sistem pengawasan yang efektif tanpa mengorbankan kenyamanan karyawan.
Di sisi lain, karyawan diharapkan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika kerja, apa pun situasi dan sistem kerja yang diterapkan.
Jadi, apa pelajaran yang bisa kita ambil? Teknologi boleh saja membantu pekerjaan, tapi jangan sampai justru digunakan untuk melanggar kepercayaan dan etika profesional.
