Cerita Pengolah Air Nira yang Enggan Tergerus Zaman

Cerita Pengolah Air Nira yang Enggan Tergerus Zaman
Proses pengelolaan air nira mejadi gula aren oleh keluarga Uwa Tardin di Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. (Yanuar/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Yanuar Baswata, Jabar Ekspres

SUMEDANG – Ketimbang sebatas tumbuh di area hutan, lebih baik diolah menjadi produk konsumtif juga bernilai ekonomi. Tak hanya disulap sebagai minuman isotonik alami. Ternyata pohon enau juga bisa diolah jadi gula aren yang terbuat dari bahan baku air nira.

Hampir semua bagian fisik pohon aren atau enau (Arenga pinnata Merr) bisa diolah. Mulai dari akar, batang, daun, buah muda, nira serta pati atau tepung dalam batang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.

BADANNYA sudah nampak kurus dan keriput. Namun tak membuat patah semangat berikhtiar. Orangnya sederhana, tapi tetap berbagi ilmu dan peduli lingkungan. Baginya bekerja di masa tua bukan halangan. Sebab umur hanyalah angka. Namanya Tardin (63), tidak ada pepanjangnya. Meski pendek tapi mempunyai mimpi panjang. Yaitu mempertahankan teknik turun-temurun keluarga dalam mengolah air nira. Supaya bisa tak tergerus zaman serta terus bermanfaat untuk masyarakat banyak.

Baca Juga:Jelang Nataru, Pemkot Bogor Pastikan Stok Pangan AmanRayakan Ulang Tahun Ke-4, Hotel 88 Alun-Alun Bandung Berkomitmen Memberikan Pelayanan Terbaik dan Tawarkan Promo Spesial di Awal Tahun 2024

Tardin asal warga Desa Sawahdadap, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Dia tinggal di rumah bilik bambu yang lokasinya dekat Gunung Manglayang. Tardin tinggal bersama keluarganya yang juga turut mengambil air nira untuk dikelola. Daerah tempat tinggalnya pun cukup strategis, di atas perbukitan yang didominasi pepohonan.

“Saya mengelola air nira sudah dari usia SD (sekira usia 6 atau 7 tahun). Ikut-ikut bapak saya naik turun gunung mengambil air nira,” kata Tardin kepada Jabar Ekspres di kediamannya.

Sudah seumur hidupnya Tardin menekuni olah air nira. Baginya itu merupakan kebutuhan sehari-hari. Untuk menyambung perekonomian keluarga. Terlebih menghemat memanfaatkan kekayaan alam atas anugerah Tuhan.

0 Komentar