Teten pun melihat saat ini adanya aturan melalui Safeguard menurut para pelaku IKM dan Konveksi kurang efektif dan melihat regulasi tersebut tidak berjalan.
“Untuk pakaian 25 ribu untuk satu potong tapi dijual secara online bisa pakaian Rp 25 ribu, makanya ada aturan safeguard ya, itu artinya ini regulasinya gak jalan,” terangnya.
Menurutnya hal tersebut mengindikasi apakah barang tersebut masuk secara resmi atau tidak resmi. Sehingga kata Teten para pelaku IKM dan Konveksi meminta kepada pemerintah agar segera dibenahi.
Baca Juga:Dinkes Bandung Barat Akan Optimalkan Penanganan Kasus ISPA dan StuntingTumpukan Sisa Sampah di Bandung Barat Mulai Bisa Dibuang ke TPA Sarimukti
“Tadi mereka menyampaikan bahwa masuk barang ke indonesia itu terlalu mudah dan murah, itu yang tadi minta ke pemerintah supaya regulasi dibenahi, maka ini yang akan saya bicarakan, memang ini sudah dikoordinasi dengan pak Mensesneg maka saya akan melaporkan karena kewenangan ini bukan di saya tapi di kementerian perdagangan dan kementerian keuangan,” ungkapnya.
Selain itu, melihat saat ini baik di Tanah Abang, ITC Kebon Kelapa dan Pasar Andir yang sepi pembeli, menurut Teten hal tersebut karena produk yang dijual disana kalah bersaing dengan barang yang dijual online.
Meskipun para pedagang yang disana kebanyakan membeli produknya di IKM Majalaya.
“Ya waktu saya kunjungan ke sana, mereka juga sama, produk yang dijual di tanah Abang itu gak bisa bersaing dengan barang yang jualan di online, mereka coba jualan di online juga gak bisa, jadi intinya memang arus masuk barang dari luar yang memang mudah dan murah sehingga produk dalam negeri tidak bisa bersaing, maka ini yang menjadi atensi presiden,” kata dia.
Untuk menjaga kestabilan harga pakaian atau tekstil, Teten mengaku seharusnya ada harga pokok dan melihat di China jika barang luar tak boleh lebih rendah dari harga produk dalam negeri.
“Saya udah liat model di China, itu memang barang masuk yang dari luar itu gak boleh lebih rendah dari HPP, nah itu kalau kita terapkan maka ini akan melindungi industri dalam negeri, jadi betul juga apa yang disampaikan para pelaku usaha di sini, bahwa kita tuh barang dari luar tuh masih terlalu mudah dan murah masuknya, sehingga memukul produksi dalam negeri,” pungkasnya. (agi)
