JABAR EKSPRES – Khutbah Jumat berasal dari bahasa Arab “Khotbah” yang artinya pidato atau ceramah yang berisi tentang keagamaan.
Dan juga mengingatkan kaum muslim mengenai ajaran Islam, baik perintah maupun larangan yang terdapat di dalamnya.
Melansir dari islam.nu.or.id berikut contoh teks khutbah Jumat tentang penyakit ‘Ain yang bisa kamu bawakan saat berkhutbah.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Baca Juga:Tontonan Keluarga! Jadwal Film Air Mata Di Ujung Sajadah Hari Ini di CGV BandungJadwal Film Sleep Call Hari Ini di CGV Bandung dan Bekasi!
Innalhamdalillah Nahmaduhu Wanastainuhu Wanastagfiruhu Wanauzubillahi Minsuururi Anfusina Waminsayyiati a’malina mayadillahu falaamudillalah wamayudilluhu falahadialah. Asyhadualla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rosuuluh.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita kepada Tuhan yang Maha Esa Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat yang banyak sehingga kita semua dapat berkumpul di hari Jumat ini.
Sholawat serta salam mari kita curahkan kepada junjungan kita semua, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang telah membawa kita semua dari zaman Jahilliah menuju zaman yang bisa seperti ini.
Selama ini kita mendengar sesuatu tentang penyakit ‘Ain, sebagian orang percaya dan tidak percaya terhadap penyakit ini.
Penyakit ‘Ain merupakan ketika pandangan mata bisa menyebabkan orang lain sakit, atau bahkan meninggal. Dalam ajaran Islam dikenal berbagai kekuatan supranatural yang dimiliki oleh sebagian orang.
Keyakinan semacam ini merupakan salah satu ciri ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Yang telah ditegaskan oleh Rasulullah bahwa penyakit ‘Ain itu nyata.
الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ
“Ain itu nyata (Haq), kalau saja ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ‘ain akan mendahuluinya” (HR Muslim).
Menurut para ulama pemahaman ‘Ain itu ada dua macam, yaitu:
- Pandangan dari orang yang memiliki tabiat buruk yang dalam hatinya terdapat rasa hasud, dengki, dan ingin mencelakai terhadap orang yang dipandangnya.
- Pandangan kekaguman atau ketakjuban dari orang yang tidak sedang merasa dengki, tetapi kekaguman tersebut tidak disertai dengan berdzikir pada Allah.
