oleh

Ratri 02 dan 02

Sejak itulah ide Dr Mo terus menggelinding. Ujungnya di bulan Desember 2020, saat Ketua BNPB Letnan Jenderal Doni Monardo minta Dr Mo presentasi. Saat itulah disepakati Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai pelaksana bank plasma konvalesen. Sejak itu terapi plasma konvalesen menjadi resmi. Saya pun, saat terkena Covid, mendapat transfusi konvalesen 2 bag.

Di Zoom kemarin itu, Dr Mo mengakhiri sesi dengan nada tinggi. Itu karena Dr Anthony Tjio, orang Indonesia yang di Mayo Clinic Amerika, tidak setuju pada pengobatan konvalesen.

“Bisa menularkan banyak penyakit,” kata Anthony –yang kelihatannya paling tua di antara kami. Bahkan ia mengatakan, di Tiongkok jutaan orang tertular HIV akibat konvalesen. Saya pun mencari data itu di Tiongkok: belum ketemu.

Dr Mo menaikkan nada suaranyi. “Mungkin Indonesia ini dinilai masih begitu mundurnya, tidak bisa membersihkan plasma dari berbagai penyakit,” komentar Dr Mo.

“Cuci plasma itu makanan saya sehari-hari,” tambahnyi. “Kalau transfusi plasma konvalesen digambarkan seperti itu, berarti kemampuan PMI sebagai bank darah juga diragukan,” kata Dr Mo. “Saya tidak ingin Indonesia dilihat dengan sebelah mata,” tambah Dr Mo.

Untunglah Zoom tiap Senin malam itu selalu dicampur lagu. Terutama ”Lilin-lilin Kecil” ciptaan James Sundah. Yang dinyanyikan secara bergantian via virtual. Suasana tegang pun bisa mendadak mencair lagi.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga