oleh

Cukai Rokok Resmi Naik di Februari 2021

Di sisi lain, ia mengapresiasi pemerintah yang tidak menaikkan CHT untuk industri sigaret kretek tangan. “Ini bukti bahwa pemerintah serius memperhatikan tenaga kerja sektor Industri Hasil Tembakau (IHT),” ucapnya.

Sementara itu, ekonom senior INDEF Enny Sri Hartati menilai, kenaikan tarif cukai tidak mampu mewujudkan empat pilar yang ditargetkan pemerintah. Ia menjelaskan, kenaikan cukai rokok dalam kondisi normal saja akan mengurangi daya beli, apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Menkes Sebut Dunia Darurat Vaksin Covid-19

Kemudian, keterjangkauan masyarakat terhadap harga rokok, di mana Indonesia menempati urutan ke-3 di Asia dan 12 di Asean. Soal ini harus menjadi pertimbangan pemerintah, bukan justru diabaikan.

“Disimpulkan, harga rokok tidak bisa dikatakan murah, dan tingkat keterjangkauan masyarakat cukup jauh atau tidak mudah. Sehingga mereka akan mencari substitusinya yang larinya ke rokok ilegal,” kata Enny.

Nah, lanjut Enny, apakah kenaikan CHT ini mampu menekan prevalensi orang merokok atau tidak. Menurut dia, apabila dikorelasikan dengan data beberapa tahun yang lalu tidak ada kesimbambungan.

Baca Juga:  Kuliah di Kampus Wajib Dapat Izin Satgas Covid-19 Setempat

“Artinya, tapi sayang enggak bisa menyimpulkan bahwa kenaikan CHT tidak memengaruhi prevalensi, tidak. Tetapi berarti dari data ini kenaikan CHT bukan satu-satunya untuk menurunkan prevalensi rokok. Karena data bilang gitu,” tukasnya. (din/fin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga