BANDUNG – Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Bandung Iriyanto, menyayangkan apa yang telah dilakukan para siswa selama proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara daring. Di mana, Iriyanto menemukan siswa itu justru tidak belajar alias bermain pada saat jam belajar.
“Seharusnya anak-anak ini jangan keluar (rumah) karena belajar di rumah seharusnya dikontrol orang tua, dan orang tua harus paham karena sekarang lagi pandemi dan belum berakhir,”kata Iriyanto kepada Jabar Ekspres, di Bandung, Senin (3/7).
Disebutkan, sejauh ini 100 persen sekolah di Kota Bandung masih memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Semua aktivitas belajar tatap muka kata dia, tidak diberlakukan di kelas sehingga memaksakan guru dan murid memaksimalkan media online.
Baca Juga:ePaper Jabar Ekspres Edisi Selasa, 4 Agustus 2020Duet Sama Zola, Impian Belum Tercapai Abdul Aziz
“Kondisi ini ada kecenderungan membuat anak-anak kita mau keluar bermain, kita pahami kondisi ini, namun pertanyaan yang sama jika kita kembalikan kepada orang tua, jawaban orang tua juga pasti melarang anak ke sekolah karena menjaga kesehatan paling utama,” paparnya.
dia melanjutkan, kondisi ini berdampak bagi seluruh pihak baik pemangku kebijakan yakni pemerintah dan masyarakat secara umum sama-sama merasa dilemma. Namun di sisi lain menurut Iriyanto, pembelajaran daring yang masih eksisting menjadi alternatif karena tidak ada pilihan lain.
“Meskipun katakan belajar daring ini kan tidak efektif tapi tidak ada pilihan lain, maka untuk itu, saya rasa Kementerian, Dinas Pendidikan tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi keluarkanlah kurikulum yang lebih kontekstual,” katanya.
Kurikulum konstektual yang dimaksud Iriyanto, merupakan terobosan tata cara belajar yang mencakup aspek teoritis dan praktis. Misalnya, beber dia, materi jangan terlalu banyak teori untuk mengefektivitas waktu, sebab menurutnya pada waktu normal suatu teori harusnya disampaikan dengan durasi waktu 1,5 jam. Lain halnya dengan kondisi saat ini, waktu belajar mestinya dipersingkat menjadi 1 jam saja meliputi praktis dan teori.
“Ada juga yang mengeluhkan guru mengirim soal di jam 10 malam, itu tidak benar, kemudian ada guru sekedar ngasih soal saja selama daring, itu juga tidak benar, karena waktu sudah dipersingkat, sementara kuota internet terbatas, kalaupun KBM ini dinormalkan 8 jam selama di rumah, pertanyaannya kuota internet mencukupi?,” tanyanya.
