Budayawan, Gubernur, sampai Cawapres Pernah Mampir

Budayawan, Gubernur, sampai Cawapres Pernah Mampir
UNGKAPKAN EKSPRESI: Kalangan mahasiswa menhabiskan waktunya untuk ngobrol di cofee shop.
0 Komentar

’’Dulu pernah ada diskusi Nyaris Bandung. Jadi, calon wali kota yang gagal kami undang untuk diskusi,’’ kata Wibisono, lantas terbahak.

Sebagai pelanggan, Wibi­sono merasa Los Tjihapit bukan sekadar tempat ngopi. Tapi lebih dari itu. Dia bisa ’’memotret’’ pemandangan kaum menengah ke bawah berinteraksi sosial secara otentik di dalam pasar.

Suasana itu menjadi salah satu kenikmatan yang tak di­peroleh di kafe atau gerai kopi mainstream. ’’Juga, bisa lihat gerobak berseliweran di lorong pasar,’’ paparnya.

Baca Juga:25.915 Surat Suara Pilpres RusakSiap Wujudkan Budaya Hukum

Suasana pasar yang otentik itu bisa mengobati stres di tengah padatnya rutinitas pekerjaan dan aktivitas per­kuliahan. ’’Kalau ngopi di kafe itu bikin bosen. Tapi, kalau ngopi di tengah pasar itu, kita bisa lihat orang ramai berseliweran,’’ tutur Reza Fir­mansyah Ismail, praktisi me­dia yang kerap nongkrong di sana.

Mereka akan tetap ngopi sambil berdiskusi sampai dis­kusi itu dilarang pemerintah. Atau kalau budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mam­pir ke sana dan berdiskusi. (*)

0 Komentar