BANDUNG – Pesantren Al Thariq asal Garut menunjukan kepeduliannya terhadap lingkungan. Hal tersebut menjadi alternatif pendidikan keagamaan yang ramah lingkungan (ekologis).
Pendiri Pesantren Al Thariq, Ibang Lukman Nurdin mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi ekosistem kehidupan manusia yang mengalami kerusakan akibat ulah manusia itu sendiri.
Untuk mulai menata ekosistem yang rusak, dia memilih pesantren. Karena menurutnya, kehidupan di pesantren selama berpuluh-puluh tahun telah mengajarkan prinsip keseimbangan hidup manusia.
Baca Juga:Pengusaha Kuwait Bangun STISPemkot Dukung Penuh Aktivitas PMI
”Pesantren tidak hanya mengajarkan kecerdasan ruh tetapi kecerdasan jasadnya, tangan, kaki. Dari situ mulailah mendirikan pesantren yang berbasis lingkungan,” kata dia saat ditemui usai menghadiri diskusi di Jalan Tamblong Kota Bandung, kemarin.
Bukan sekadar mengajarakan hal keagamaan sepeti kitab kuning kepada santrinya, melainkan juga turut memberikan pemahaman tentang kedaulatan pangan, agroekologi hingga revolusi meja makan.
Setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi para santri berasal dari perkebunan yang mereka tanam sendiri. Sehingga dapat memberikan manfaat kesehatan.
”Ekologi semakin hari semakin carut-marut alih fungsi yang luar biasa, menggunakan pupuk dan benih-benih kimia,” imbuhnya.
Melalui kehadiran pesantren yang didirikan oleh Ibang pada tahun 2008 silam tersebut, dia berharap dapat memberikan kesadaran santri sejak dini untuk lebih peduli terhadap ekosistem kehidupan manusia di masa depan.
”Kita Indonesia disediakan makanan melimpah. Bila ini dilakukan oleh masyarakat maka kedaulatan pangan dan ekosistem yang sehat akan terwujud,” pungkasnya. (mg4/drx)
