Elih memaparkan, hadirnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Abad-21 telah menimbulkan berbagai perubahan yang begitu cepat di semua sektor kehidupan.
Sekadar kata ”jangan” sudah tidak ampuh lagi untuk menjauhkan anak-anak dari berbagai informasi yang terus mengalir melalui berbagai media bervariasi. Mungkin siswa saat di kelas tanpa gadget. Namun setelah keluar kelas mereka bermesraan dengan gawai.
”Oleh karena itu hal penting di era banjir informasi ini bukan saja bagaimana siswa dapat menguasai sejumlah informasi dan pengetahuan. Tapi, lebih kepada bagaimana anak-anak memiliki ”kedewasaan” untuk memilah, memilih, bahkan mengkreasi informasi yang konstruktif bagi kemajuan diri dan lingkungannya,” kata Elih dalam tulisannya.
Baca Juga:PR Besar Masih Menanti Mario GomezMinta Pengusaha Respek Pada Citarum
Untuk membekali anak-anak kita bisa sukses di kehidupannya ke depan, tidak cukup mereka dijejali dengan informasi dan pengetahuan, lebih penting mereka dikuatkan dalam kompetensi proses. Bukan sekadar kompetensi hasil apalagi jika hasil yang dimaksud hanya berupa kemampuan kognitif tingkat rendah.
Elih mengungkapkan, komitmen terhadap tujuan pendidikan yang hakiki menjadi keharusan bagi seorang guru professional, para pengelola, dan pengelenggara pendidikan. Komitmen bahwa pendidikan adalah sektor pembangunan prioritas, urusan wajib pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar warga negara, mengupayakan terus anggaran pendidikan 20 persen.
”Tentu itu semua merupakan komitmen yang baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Tapi, tanpa komitmen yang kuat akan tujuan pendidikan maka cara-cara yang ditempuh akan sangat pragmatis mengikuti musim, mengikuti apa yang menjadi mainstream kebijakan saat tertentu, yang kadang dirancang berbasis pada kerangka berpikir siapa yang berkuasa menyusun kebijakan, atau berbasis pada program dan kegiatan yang rutin dilakukan. (and/rie)
