Namun, Amran mengakui adanya kemungkinan pihak-pihak yang memainkan harga. Karena itu, dia terus berkoordinasi dengan Bareskrim Polri untuk mendeteksi atau menindak pihak-pihak itu. ”Pokoknya, jangan ganggu orang yang sedang ibadah,” tegasnya.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Brigjen Agung Setya menambahkan, naiknya harga bawang putih itu tentu akan dilihat dari awal. Mulai stok hingga distribusinya. ”Kami lihat apakah kenaikan ini ada pelanggarannya atau tidak,” ujarnya.
Menurut Agung, penindakan hukum dalam distribusi pangan itu bukan intimidasi, tapi bertujuan memberikan manfaat yang banyak. ”Kapan lagi penegakan hukum bisa bermanfaat untuk orang yang begitu banyak?” ucap dia.
Baca Juga:Dahlan Sandingkan Tesla dengan SeloGandeng Polisi Awasi PPDB
Penegakan hukum sebenarnya bisa berdampak turunnya harga pangan. Dia menuturkan, saat menangani kasus cabai rawit merah, harga komoditas itu langsung turun. Namun, beberapa saat kemudian harganya naik lagi. ”Saya saat itu langsung periksa tujuh industri yang menyedot cabai rawit merah. Besoknya harga langsung kembali turun,” ujarnya.
Tidak hanya menelusuri persoalan bawang putih, Bareskrim juga menemukan permainan dalam distribusi daging. Ada informasi dari Polda Jambi bahwa banyak daging stok untuk Jakarta yang masuk ke Jambi. ”Kami telusuri semua itu,” papar wakil kepala Satgas Sembako Polri tersebut.
Sementara itu, menjelang bulan puasa, para pedagang mulai mewaspadai tren naiknya harga bahan pangan. Menurut Ketua Ikatan Pedagang Pasar Abdullah Mansuri, selain bawang putih, patut diwaspadai beberapa bahan pangan lain yang berpotensi naik saat Ramadan. ”Yang paling berpeluang naik adalah cabai, daging ayam dan sapi, serta minyak goreng,” sebutnya. (agf/idr/tau/c11/owi/rie)
