Istri Prajurit Harus Jadi Benteng Radikalisme

Komandan Kodiklat TNI AD Letnan Jenderal TNI Lodewijk F.Paulus beserta Istri memotong tumpeng -bandung-ekspres
RIYAN GUSTIYAN/BANDUNG EKSPRES
TANGKAL RADIKALISME: Komandan Kodiklat TNI AD Letjen (TNI) Lodewijk F. Paulus beserta istri memotong tumpeng dalam peringatan ulang tahun ke-69 Persit Kartika Chandra Kirana.
0 Komentar

SUMUR BANDUNG – Selain membantu dalam mendukung tugas suami seorang istri prajurit TNI harus mampu berperan aktif di masyarakat.

Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat Lodewijk F.Paulus mengatakan, di ulang tahun ke-69, sebaiknya menjadi momentum bagi Persit Kartika Chandra Kirana untuk menata ke arah yang lebih baik dan mengoptimalkan kinerja organisasi.

’’Persit Kartika Chandra Kirana akan semakin mampu menunjukkan perannya dalam melakukan pembinaan terhadap istri prajurit dan keluarganya,” jelas Lodewijk di Markas Kodiklat, belum lama ini.

Baca Juga:Banjir Perlu Penanganan BersamaSewa Genset demi Unas

Seorang istri prajurit juga harus mampu untuk melakukan pembinaan pendidikan, kesejahteraan dan moral dalam keluarga, sehingga berdampak positif terhadap tugas prajurit.

Lodewijk menilai, sebagai seorang ibu, tugas anggota Persit Kartika Candra Kirana adalah mengantarkan anak-anak menjadi generasi muda Indonesia yang terpelajar, berprestasi serta berkarakter.

Untuk itu, dengan perkembangan teknologi dunia maya, anak-anak bisa dengan mudah mengakses informasi melalui komputer atau telepon pintar yang sudah sangat familiar dengan mereka. Oleh karena itu, mereka juga rawan terhadap keterpengaruhan paham radikalisme melalui media itu.

Tak hanya merambah dunia maya atau media massa, paham radikalisme juga dapat merasuki melalui lingkungan pendidikan, pergaulan, kelompok sosial, kelompok agama, kesenian dan lainnya.

’’Sebagai orang tua, ibu-ibu harus dapat mewaspadai dan memilah-milah dengan bijaksana terhadap arus informasi itu, yang tentu tidak dapat dicegah keberadaannya, mengingat ibu adalah orang yang paling awal dalam membaca tanda-tanda radikalisme di lingkungan keluarga,” cetus Lodewijk. (yan/vil)

0 Komentar