Ganda Campuran Indonesia Penguasa Eropa

JAKARTA – Buat Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, pengalaman di Arena Birmingham serba-pertama. Tampil di final All England, sekaligus kali pertama tampil turnamen super 1000. Namun, status debutan seperti tidak ada artinya bagi pasangan nomor 5 dunia itu.

Menghadapi bintang Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai yang peringkatnya lebih tinggi, mereka sama sekali tidak gentar. Performa garang Praveen dan permainan cantik Melati di depan net mengantar mereka sukses merebut gelar untuk kali pertama.

Ganda Campuran Indonesia tersebut berhasil menyapu bersih semua gelar dari tiga turnamen terakhir di Eropa. Tahun lalu mereka menjuarai Denmark Open, lalu disambung French Open. Ditambah All England, lengkap sudah gelar mereka di Benua Biru untuk kategori turnamen super 750 ke atas.

Bagi Praveen, memang bukan kali pertama jadi juara All England. Sebab, pada 2016, dia pernah merebut gelar bersama Debby Susanto. Tapi, merebut gelar kedua bersama partner yang berbeda disebutnya istimewa. ”Itu jelas nggak mudah,” katanya dalam wawanacara di court.

Praveen/Melati punya keunggulan head-to-head atas pasangan nomor 3 dunia tersebut. Dari lima pertemuan sebelumnya, mereka menang tiga kali. Namun, menurut Melati, unggul di atas kertas tidak membuktikan apa-apa. ”Ini pertandingan level tinggi. Statistik nggak terlalu berpengaruh. Maka, kami harus tetap fokus dan memberikan yang terbaik di lapangan,” jelas pemain 26 tahun itu.

Dalam laga final tersebut, Praveen/Melati memang tampil sangat solid sejak game pertama. Minim sekali kesalahan yang mereka buat. Smes tajam Praveen berkali-kali menghajar Puavaranukroh, sedangkan defense Melati yang semakin bagus membuat lawan frustrasi. Pengembalian pasangan Thailand itu kerap keluar atau nyangkut di net. ”Di game kedua, kami ada kesalahan strategi. Kami terlalu banyak meladeni pukulan mereka,” ungkap Praveen di mixed zone.

Pada game ketiga, mereka mampu mengembalikan kepercayaan diri. Ketika mendapat kesempatan servis, Praveen/Melati langsung ngebut dan leading 11-5 saat interval. Keunggulan telak itu sempat sedikit terkejar saat pergantian lapangan. Tapi, mereka hanya membiarkan lawan memetik tiga angka tambahan. Sebuah pengembalian Puavaranukroh yang tersangkut di net mengakhiri perjuangan mereka. ”Game ketiga kami banyak langsung menyerang. Kami banyak membawa mereka ke permainan kami. Bisa dilihat, mereka seperti tidak berkutik. Setiap ketemu mereka pasti ramai dan Poinnya pasti ramai,” akunya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan