oleh

DAK Pendidikan Mencapai Angka Rp 61 Miliar

“Sekarang ini pengerjaan fisik sedang berlangsung di sekolah-sekolah yang mendapatkan bantuan DAK. Polanya adalah swakelola dan dilakukan oleh Panitia Pembangunan Sekolah (P2S),” sambungnya.

Sementara, Kepala Bidang SD Disdik KBB Asep Nirwan menambahkan, untuk bantuan DAK dari pusat tahun ini ke KBB mengalami penurunan. Kondisi itu jelas berimbas kepada program perbaikan infrastruktur sekolah baik rehan atau bangun baru. Contohnya untuk di SD, tahun ini yang mendapatkan bantuan DAK hanya sebanyak 110 paket sekolah. Padahal dari total 709 SD negeri dan swasta, sekitar 50%-nya dalam kondisi rusak.

“Untuk intervensi bantuan DAK bagi SD hanya 110 paket, tapi kami berupaya menutupi sekolah yang tidak tercover bantuan seperti dari APBD kabupaten, provinsi, maupun CSR perusahaan,” sebutnya.

Menurut Asep, faktor penyebab kerusakaan kelas bisa diakibatkan berbagai hal. Misalnya karena usia bangunan yang sudah tua, kontruksi bangunan tidak kokoh, karena bencana alam, dan lainnya. Makanya kebutuhan perbaikan ruang kelas rusak sebenarnya cukup tinggi, namun karena keterbatasan anggaran maka pihaknya melakukan skala prioritas dalam penanganannya.

“Perbaikan di SD kebanyakan adalah rehab kelas dan RKB. Untuk tahun 2020 kami belum bisa pastikan berapa paket sekolah yang tercover DAK mengingat sementara angka yang muncul nilai bantuannya menurun dari Rp 61 miliar menjadi hanya Rp 15 miliar untuk SD dan SMP,” pungkasnya. (drx)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.