oleh

Tujuh Rumah Roboh

”Kami sekeluarga tidak kepengungsian, karena anak kami tidak mau mengungsi. Sedangkan tempat tinggal yang lain pun kami tidak punya, jadi terpaksa anak saya pulang pergi sekolah selalu melintasi air yang kotor ini,” paparnya.

Sementara itu, Kapolsek Baleendah Kompol Suhari menjelaskan, dua rumah di antaranya mulai roboh beberapa pekan lalu sampai Senin (4/1). Kemudian rumah lainnya perlahan roboh sampai Rabu (6/1). ”Kondisi rumah tersebut sudah sangat mengkhawatirkan karena sering terendam banjir. Bagian dinding dan atapnya sudah lapuk, akhirnya roboh,” jelasnya.

Suhari mengungkapkan, tiga rumah roboh di antaranya sudah tidak dihuni sejak beberapa bulan lalu. Di antaranya milik keluarga Wahyu, Jul, dan Lilis. Sedangkan, Semua rumah tersebut terletak di RW 20.

Keluarga Ela dan Ade tercatat mengungsi di Gedung Serba Guna Kelurahan Baleendah bersama pengungsi banjir lainnya. Hingga kemarin (6/1), terdapat 13 keluarga yang terdiri atas 35 jiwa mengungsi di gedung serba guna tersebut. Enam di antaranya balita.

”Kebanyakan warga inginnya cepat-cepat pindah dari tempat ini, berharap pembebasan lahan Cieunteung untuk jadi danau retensi ini bukan hanya wacana,” ungkapnya. (yul/rie)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.