oleh

Selalu Kangen Nongkrong dengan Seniman Tanah Air

Tugas utama tim tersebut adalah melakukan riset dan pengembangan seputar seni rupa di Asia Tenggara. Galeri Nasional Singapura memang tak hanya mengkhususkan perhatian pada seni rupa lokal. Melainkan telah menancapkan tekad menjadi sentra seni rupa di kawasan Asia Tenggara.

”Bukan sebatas luasan dan jumlah koleksi karya. Tapi, juga berkaitan dengan informasi dan data yang dimiliki,” kata Farah.

Karena itu pula, meski baru diresmikan November tahun lalu, persiapan yang dilakukan sebelum benar-benar berdiri tidak main-main. Selain dukungan dana triliunan rupiah, persiapan intensif telah dilakukan sekitar sepuluh tahun. Selain terkait infrastruktur, berbagai riset telah pula diadakan dalam rentang waktu tersebut.

Kepercayaan besar yang diterima perempuan kelahiran Jakarta, 1 Agustus 1975, itu dari institusi negeri tetangga tersebut tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Ada proses panjang yang menyertai.

Lahir dan tumbuh dari keluarga yang tidak memiliki latar belakang seni atau budaya, Farah justru merasa seni rupa adalah dunianya. Kecenderungan itu makin kuat sejak dia lulus dari pendidikan S-1 jurusan desain grafis Universitas Trisakti, Jakarta, pada 1998.

Dia mulai banyak bersinggungan dengan berbagai komunitas seni. Sampai kemudian pada 2000 mendapat kesempatan beasiswa program master in art history dari Goldsmith College di London, Inggris.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.