Kisah ABK Tugboat Henry yang Lolos Penyanderaan Abu Sayyaf

 

Panik dan takut di bawah todongan senjata, para kru kapal Henry tak berdaya mencegah empat rekan mereka dibawa pembajak. Ada yang sampai kapok berlayar ke Filipina.

FOLLY AKBAR, Jakarta
RURY JAMIANTO, Tarakan
YULIUS LAATUNG, Manado

SENJA baru saja usai. Laut dan langit yang biru berubah menjadi hitam. Keheningan pun menyelimuti perairan Tawi-Tawi yang mempertemukan Filipina dengan Malaysia

Melaju di atas perairan tersebut, sepuluh kru tugboat Henry berkutat dengan aktivitas masing-masing pada Jumat sore (15/4) dua pekan lalu itu. Sembara Oktafian yang menjadi perwira mesin sibuk mengecek mesin kapal. Sebagian temannya yang lain asyik menonton televisi. Ada pula yang tengah makan atau membikin kopi. Sebuah malam yang damai. Sampai kemudian alarm kapal berbunyi keras.

Adalah Yohanis Serang, anak buah kapal (ABK) Henry yang lain, yang pertama mengabarkan kegentingan itu. Setengah berlari, dia turun ke ruang bawah sembari berteriak memberi tahu rekan-rekannya, ”Oiii… ada Abu Sayyaf, ada Abu Sayyaf.”

Bara, sapaan akrab Sembara Oktafian, tak langsung percaya. Dia merasa kapal sudah memasuki wilayah perairan Malaysia. Sedangkan setahu dia, Abu Sayyaf, kelompok radikal itu, hanya beroperasi di teritori Filipina.

Bergegas pemuda 26 tahun itu pun naik ke dek. Dan, ternyata Yohanis benar. Pria-pria bersenjata telah menguasai kapal yang baru pulang mengantarkan batu bara ke Filipina tersebut. Seorang di antara mereka meneriakinya untuk turun.

Dikepung kepanikan, tanpa pikir panjang, Bara pun mengikuti perintah perompak tersebut. Dia turun dengan perasaan takut yang luar biasa. Apalagi tak lama kemudian suara tembakan terdengar beberapa kali.

”Telinga saya berdenging. Saya semakin takut,” tutur Bara saat ditemui Jawa Pos (induk Bandung Ekspres) di kediaman orang tuanya di Koja, Jakarta Utara, kemarin (25/4).

Adegan yang biasa dilihatnya dalam film-film action hadir di depan mata dan kepala sendiri. Bara dan beberapa rekannya hanya bisa berjongkok, menunduk, sambil mengalungkan kedua tangan ke kepala.

Bahkan, sudah sepuluh hari berlalu, kengerian masih terekam di wajah Bara kala menceritakan malam jahanam itu. Suaranya beberapa kali tercekat. Matanya berkaca-kaca, terutama saat mengenang empat rekannya yang sampai saat ini masih disandera kelompok Abu Sayyaf.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan