oleh

Satu Juta Dalam Lima Tahun

Siapkan Bor untuk Pembuatan Biopori

SUMUR BANDUNG – Program pemerintah untuk meregenerasi air tanah yang bersih yang dilakukan dengan proses pelubangan atau biopori, dinilai mampu untuk meminimalisir dampak banjir. Hingga saat ini, di Kota Bandung baru terdapat sebanyak 367.734 lubang biopori.

Satu Juta Biopori
RAMAH LINGKUNGAN : Sejumlah anak Sekolah Dasar (SD) memasukan Sampah organik kedalam Bio Pori di kawasan RW5, Jalan Babakan Tarogong, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Jumat (23/1).

Melihat hal tersebut, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung akan menggenjot masyarakat Kota Bandung untuk kembali giat melakukan pengeboran tanah biopori, guna mencapai target satu juta biopori.

’’Saat ini kita sedang lakukan penambahan-penambahan lubang sesuai dengan target Kota Bandung satu juta lubang sampai lima tahun,’’ ujar kepala BPLH Kota Bandung Hikmat Ginanjar saat ditemui Bandung Ekspres di Kantor BPLH, Jalan Sadangserang, Kota Bandung, belum lama ini.

Saat ini, kata Hikmat, lubang biopori yang ada di Kota Bandung baru ada sekitar 367.734. Dia meminta kepada masyarakat untuk menambah lubang-lubang biopori dilahan-lahan sekitar lingkungannya sendiri.

’’Mudah-mudahan, kemarin juga banyak didukung oleh elemen masyarakat baik dari kelurahan, RW dan kecamatan yang selalu ada kegiatan untuk melakukan pengeboran lubang biopori,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, memasuki musim hujan kali ini, lubang biopori bermanfaat untuk mengurangi debit genangan air di lingkungan masyarakat. Sehingga, air menyerap kedalam lubang-lubang biopori.

’’Ini juga bermanfaat untuk menghasilkan pupuk. Seperti di Bojongloa Kaler, masyarakat memasukan sampah organik kedalam lubang biopori, sehingga biopori nanti menjadi pupuk,’’ tuturnya.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Lingkungan Hidup BPLH Kota Bandung Ayu Sukenjah menjelaskan, untuk penambahan lubang-lubang biopori di tahun ini, BPLH menyiapkan sebanyak 1.000 alat bor. Alat bor ini, kata Ayu, akan diberikan kepada masyarakat melalui kecamatannya masing-masing. Namun, pengadaan alat bor untuk 2015 belum tersedia, pihaknya berjanji pada triwulan II paling lambat bulan Juli.

’’Kalau sekarang pakai yang ada dulu yang kemarin, tapi nanti kecamatan juga bisa melakukan pengadaan sendiri,’’ tuturnya.

Namun, selain ke kecamatan, masyarakat yang membutuhkan alat bor untuk lubang biopori juga bisa mengajukan ke BPLH. ’’Kita lebih utamakan per kelompok dahulu, mereka nantinya membuat laporan yang disampaikan ke kewilayahan setempat,’’ tutupnya. (fie/far)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.