Hanya Sebar 500 Keping

Walaupun major label memiliki kekuatan pada ranah industri masif, Marin tidak menjadikan itu sebagai saingan, apalagi musuh. Marin lebih menganggap label-label yang sudah besar sebagai rekan yang harus didekati secara persuasif. ’’Saya sih lebih memperhitungkan kedekatan emosional dengan mereka (major label),’’ ujarnya.

Selain itu, pria lulusan S2 jurusan Managmen di Telkom STMB ini tidak pernah merasa punya ambisi untuk bersaing dengan major label. Dia juga tidak ingin mengganti labelnya yang barwujud indie ini berubah bentuk menjadi major label. ’’Ini emang bisnis, tapi saya pribadi ngerjainnya seneng. Ketemu banyak temen baru dan nggak kayak robot kerjanya,’’ kata dia.

Marin menilai, perkembangan band ini di Bandung terbilang pesat sejak munculnya Mocca yang dirilis FFWD pada tahun 2001. Kemudian, disusul Homogenic pada tahun 2004, The S.I.G.I.T dan sejumlah band yang berasal dari negara lain. Seperti, Swedia dan Jepang. Selanjutnya, band-band indie seolah berbondong-bondong ke kantor FFWD, menawarkan albumnya untuk minta dirilis.

’’Saya juga nggak ngerti keajaiban apa yang bawa mereka (Band indie) buat ke sini (FFWD). Padahal, kita nggak tawarin program khusus buat majuin perkembangan musik band-band yang masuk FFWD,’’ jelasnya.

Padahal, kata pria yang hobi desain dan mengumpulkan Vinyl ini, modal yang dimiliki FFWD tidak besar. Dan hingga kini, hal itu masih jadi kendala. ’’Maklum kan kita nggak punya duit banyak. Tapi selama masalah itu bisa dipelajari, pasti ada solusinya,’’ ujarnya.

Megadeth—manajer band Jeruji—juga sudah sejak lama terjun dalam manajemen band indie. Terutama, genre metal. Menurut dia, pendahulu konsep indie adalah musisi-musisi rocker. Terlepas itu dari Kota Bandung atau bukan. ’’Misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten,” kata pria yang akrab disapai Meg ini saat ditemui di Bandung Science Center (BSC), Jalan Sindang Sirna No. 15, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.

Merekalah generasi pertama rocker Indonesia. Padahal, lagu-lagu yang dibawakan mereka saat itu bukan lagu sendiri. melainkan milik band-band luar negeri semacam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan