oleh

Dinkes Perketat Pengawasan Makanan Olahan

SUMUR BANDUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung memperketat pengawasan bahan makanan olahan yang dijual di pasaran. Hal ini dilakukan setelah ditemukan bahan kimia berbahaya di berbagai jenis makanan olahan. Seperti, kikil dan saus sambal botol.

Bahan Olahan Makanan - DINKES
GUNAKAN BAHAN KIMIA: Warga menikmati santap siang di kawasan Alun-alun Timur kemarin (2/2). Warga mesti hati-hati mengonsumsi saus karena banyak saus palsu yang beredar.

Kepala Dinkes Kota Bandung Ahyani Raksanegara mengatakan, oknum produsen semakin nekat mencampur bahan kimia non-food ke dalam olahan makanan. Tindakan ini berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan terhadap produsen-produsen makanan.

Supaya pengawasan semakin mantap, dinkes menggandeng lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lain. Seperti, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP), Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) dan Balai POM. Terlebih, lanjut Ahyani, pengawasan akan difokuskan kepada pengusaha industri rumah tangga (PIRT).

Meski begitu, dinkes akan selektif menindaklanjuti laporan dari masyarakat yang berkaitan dengan hal ini. Pihaknya juga melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap produsen makanan. ’’Kita lakukan secara periodik baik preventif maupun monitoring,’’ ujarnya saat dihubungi wartawan belum lama ini.

Ahyani mengatakan, apabila produsen tersebut memang tidak mengetahui bahaya dari zat kimia yang dicampurkan pada bahan makanan, pihaknya akan memberikan pembinaan. Namun, apabila sudah mengetahui tetapi masih melakukan dengan mencampur bahan kimia, pihaknya tak segan memberikan sanksi. Yakni, berupa pencabutan izin. Supaya produsen nakal itu tidak bisa memasarkan hasil produksinya ke toko-toko formal. ’’Ini artinya, dia sebetulnya mengunci sendiri pasarnya,’’ katanya.

Dia menjelaskan, apabila bahan makanan yang mengandung zat kimia dikonsumsi oleh manusia, hal tersebut akan menimbulkan munculnya beragam penyakit. Bahkan yang paling berat, apabila mengkonsumsi makanan berzat kimia, berpotensi menimbulkan penyakit kanker. Sebab, banyak yang mengandung zat karsinogenik yang bisa menyebabkan kanker. ’’Makanya ini nggak main-main kalau zat kimia dimasukkan ke dalam tubuh dan dikonsumsi setiap hari,’’ ujarnya.

Menurutnya, penyakit kanker yang disebabkan oleh zat kimia tersebut bisa terjadi akibat faktor internal dan eksternal. Sehingga, patut diwaspadai konsumsi makanan yang mengandung zat kimia. ’’Di dalam tubuh itu ada kromosom yang mungkin berpotensi terkena sel kanker. Kemudian, diluarnya diberi trigger. Jadilah memicu munculnya penyakit kanker.

Selain penyakit berbahaya seperti kanker, konsumsi makanan yang mengandung zat kimia juga berbahaya untuk kesehatan dan menimbulkan penyakit lain. Seperti, terganggunya pencernaan. Mulai dari mulut, lidah, kerongkongan, lambung dan usus. ’’Kemudian yang beratnya hati dan ginjal yang harus membersihkan, apalagi kalau orang-orang tertentu yang sensitif lalu mengkonsumsi dia akan alergi juga,’’ katanya.

Selain itu, masyarakat terutama orang tua pada anaknya harus tetap diimbau agar tidak jajan sembarangan apabila berada disekolah. Sebab, pemasaran bahan-bahan makanan seperti saus dikhawatirkan dipasarkan juga di sekolah-sekolah. Untuk itu, selain orangtua, pihak sekolah pun perlu mengawasi dan mengimbau anak didiknya untuk waspada dalam memilih makanan di sekolah.

Dinkes sendiri, lanjut Ahyani, akan rutin memberikan penyuluhan-penyuluhan dan pembinaan kepada para pelajar di sekolah berkaitan dengan bahayanya apabila jajan sembarangan. Beberapa petugas kesehatan akan rutin mendatangi sekolah-sekolah untuk penyuluhan. Di antaranya, petugas UKS dan petugas kesehatan keliling. ’’Sekolah juga bisa meminta kepada kami untuk dibina,’’ katanya.

Iapun meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap makanan-makanan yang dijual di pasaran. Dia juga mengimbau masyarakat untuk pintar-pintar dalam memilih bahan makanan sebelum dikonsumsi. Menurutnya, masyarakat wajib melihat dahulu label kemasan barang yang akan dibeli. ’’Beli makanan yang dijualnya di tempat yang legal. Lihat juga labelnya apakah standar atau tidak,’’ ujarnya.

Dalam label standar, pastikan terdapat informasi mengenai komposisi, alamat tempat pembuatan, masa pembuatan hingga waktu kadaluarsa. Apabila tidak terdapat label semacam itu, masyarakat ada baiknya mengurungkan niat untuk membeli bahan makanan tersebut. Dilihat juga dari fisiknya, jika warnanya bagus tapi harganya murah harus diwaspadai.

Ahyani juga mengimbau kepada para pelaku usaha untuk membuat makanan yang sesuai standar. Sebab, kata dia, apabila mencampurkan dengan yang lainnya, efek yang akan didapat oleh konsumen sangat berbahaya terhadap kesehatan. ’’Kepada produsen jadilah produsen yang bertanggung jawab. Pahami aturan-aturannya, karena makanan itu untuk kesehatan,’’ katanya. (fie/tam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.