oleh

Colenak Murdi Sajikan Menu pada KAA Pertama

 GEGAP gempita masyarakat Indonesia, khususnya Bandung menyambut peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke 60. Tahun ini, Kota Bandung sebagai tuan rumah puncak peringatan KAA tersebut. Ternyata. Banyak cerita di balik perhelatan KAA dari waktu ke waktu. Salah satunya, dirasakan Betty Nuraety sebagai pemilik kedai Colenak Murdi yang menjadi penyedia konsumsi pada KAA pertama tahun 1955 lalu. Tape bakar buatan kakeknya menjadi salah satu bagian dari sejarah KAA 1955.

Colenak Murdi
ISTIMEWA

TETAP EKSIS: Betty Nuraety menunjukkan colenak khas
Murdi Putra kepada wartawan di kedainya, belum lama ini.

”Sejarah singkat, ceritanya pada waktu itu (tahun 1955), penyelenggara KAA datang ke tempat jualannya kakek kami yang bernama Murdi. Bapak diundang penyelenggara ke Hotel Homann. Ya, kakek kaget sekaligus bangga, karena colenak jadi sajian untuk para pimpinan negara pada KAA 1955,” papar Pemilik Generasi Ketiga Kedai Colenak Murdi itu kepada Bandung Eskpres, belum lama ini.

Cucu Murdi itu menceritakan sepenggal kisah sejarah tersebut berdasarkan obrolan ibu kandungnya atau anak Murdi bernama Supiah. ”Setelah menerima pesanan colenak untuk acara KAA, kakek enggak melibatkan orang lain dalam pekerjaannya. Pembuatan colenak dikerjakan hanya oleh kakek dan nenek bersama anak-anaknya,” beber Betty.

Colenak berbahan tape atau peyeum itu, proses pembuatannya dibakar memakai arang. Tape bakar tersebut ditaburi cairan gula merah dan parutan kelapa. Selanjutnya hidangan colenak buatan Murdi disajikan di meja makan pada malam resepsi rangkaian KAA 1955 di Gedung Pakuan pada 18 April 1955 dan kegiatan perpisahan di Hotel Savoy Homann pada 24 April 1955 lalu.

Berdiri sejak 1930 lampau, Gerai Colenak Murdi yang kini berlabel Colenak Murdi Putra, hingga kini masih bertahan. ”Kakek kami wafat di Bandung pada 1966 saat berusia usia 72 tahun, dan kini usahanya diteruskan oleh anak cucunya,” tambah dia.

”Saya sebagai salah satu generasi ketiga, merasa bangga colenak Murdi sempat menjadi bagian sejarah dunia pada saat KAA 1955. Kami bersyukur kenikmatan colenak kami bisa mengharumkam nama Bandung. Warisan colenak yang dipelopori kakek masih tetap eksis hingga kini,” katanya. (kha/fik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.