oleh

39 Orang Positif HIV Aids

BUBUN MUNAWAR/CIMAHI EKSPRES  PELATIHAN: Sekretaris Dinas Kesehatan Fitriani Manan sedang menyampaikan materi saat pelatihan layanan komprehensif HIV-AIDS, di Aula Gedung B Pemkot Cimahi, kemarin.
BUBUN MUNAWAR/CIMAHI EKSPRES

PELATIHAN: Sekretaris Dinas Kesehatan Fitriani Manan sedang menyampaikan materi saat pelatihan layanan komprehensif HIV-AIDS, di Aula Gedung B Pemkot Cimahi, kemarin.

CIMAHI – Data Dinas Kesehatan Kota Cimahi menunjukkan, pada 2014 lalu ada 39 orang yang positif terjangkit HIV. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibanding 2013 yang hanya 15 orang saja. HIV/Aids maupun Tuvercolosis (TB) adalah penyakit yang jumlah kasusnya cenderung bertambah dalam kurun waktu tertentu. Sehingga perlu penanganan maksimal untuk menekan penyebarannya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Dr. Fitriani Manan mengatakan, dua permasalahan kesehatan yang harus kedua penyakit tersebut menjadi komitmen global dalam MDGs (Millenium Development Goals) untuk pengendaliaannya. ”Kedua penyakit tersebut memiliki perbedaan cara penularan dan mengakibatkan infeksi yang berbeda pula. Namun apabila keduanya bersekutu, kedua penyakit tersebut dapat menjadi ancaman bagi keselamatan seseorang baik dengan HIV positif,” katanya kemarin (26/5).
Karenanya, kata Fitriani, Pemerintah Kota Cimahi terus berkomitmen untuk terus mengendalikan penyebaran HIV/AIDS di Kota Cimahi. Pada tahun 2014 jumlah kasus 39, pada tahun 2013 jumlah 15 kasus, terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Akan tetapi, dengan melibatkan para dokter Koordinator Pencegahan Pemberantasan Penayakit (P2P). Petugas TB, Petugas HIV dan Petugas PTM di Kota Cimahi jumlah tersebut bisa terdiektesi sedini mungkin.
Upaya peningkatan kulaitas layanan dalam rangka pengendalian HIV/AIDS dan infeksi menular seks (IMS) di Cimahi terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kesehatan. Dengan adanya pelatihan beberapa layanan dengan program layanan komprehensif HIV/AIDS berkesinambungan (LKB).
Layanan ini merupakan layanan komprehensif berbentuk jaringan yang berbasis pada tingkat pelayanan sekunder yaitu RSUD dan tingkat pelayanan primer seperti Puskesmas sebagai tempat layanan pencegahan terintergrasi dengan layanan pengobatan mulai dari deteksi, memantau dan menindaklanjuti pengobatan, perawatan dan dukungan. ”Usaha ini dilakukan sepaya laju penyebaran penyakit tersebut dapat ditekan sekecil mungkin,” pungkas dia. (mgc1/fik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.