Melawan Nyeri di Tubuh Penderita Kanker dengan Samarium Karya Batan

Diinjeksi samarium tak membuat pasien kanker jadi lemas dan mengantuk sehingga bisa beraktivitas normal. Sayang belum tersebar merata ke seluruh kota di tanah air

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

TAK ada lagi efek lemas dan kantuk. Nyeri di tulang perlahan-lahan juga menghilang. Dua suntikan berjarak tiga bulan itu benar-benar membuat kondisi badan Evie Diancha Ebling terasa enak.

”Seperti mendapatkan tenaga baru,” kata perempuan 37 tahun itu saat dihubungi, baru-baru ini.

Evie adalah penderita kanker payudara. Dua suntikan yang dia dapat pada April dan Juli 2017 itu adalah injeksi Samarium-153 EDTMP (etilen diamin tetra metil fosfonat). Produk radiofarmaka hasil kerja sama Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) dan Kimia Farma tersebut berguna untuk terapi paliatif penderita kanker.

Nyeri di sekujur tubuh adalah bagian dari palagan seorang penderita kanker payudara seperti Evie. Sejak pertama didiagnosis kanker pada 2014, perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan, itu mengaku kerap merasakannya di bagian leher, tulang pinggang, rusuk, bahu, sampai ke tulang kepala. Sebab, sel kankernya sudah menyebar ke tulang. ”Seperti ditusuk-tusuk,” ungkapnya.

Untuk mengurangi rasa sakit itu, dia menggunakan pereda nyeri resep dokter yang mengandung morfin. Tapi, efeknya, dia ketagihan. Hingga tidak bisa beraktivitas.

Bawaannya ngantuk terus. Sampai akhirnya, terapi pereda nyeri dengan obat yang mengandung morfin tersebut dihentikan.

Perempuan 37 tahun itu ke­mudian dianjurkan dokternya untuk menggunakan terapi dengan samarium untuk meng­gantikan morfin. Evie tak langs­ung menerima. Dia mencari informasi dulu dari beberapa literatur. Sebelum akhirnya bersedia menggunakannya.

Widyastuti, peneliti Batan yang terlibat dalam riset samarium sejak awal, menerangkan, pe­nelitian samarium awalnya merupakan proyek dari Badan Atom Dunia (International Atomic Energy Agency) pada 1996-1997. Ketua tim peneli­tian samarium itu adalah Prof Swasono R. Tamat.

Pada 1997, lanjut perem­puan 60 tahun tersebut, pe­nelitian selesai. ”Di tahun itu juga dikirim ke RS dr Sardjito, Jogjakarta,” jelas Widyastuti saat ditemui di Pusat Tekno­logi Radioisotop dan Radio­farmaka (PTTR), kompleks Batan, Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat pekan lalu (8/2).

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan