135

KPK Pertimbangkan Pemakaian Senjata

ISTIMEWA / FAJAR INDONESIA NETWORK
TEROR MOLOTOV: Rumah Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M. Syarief dikabarkan dilempar bom molotov oleh orang tidak dikenal. Kejadian tersebut berlangsung pada Rabu (9/1/2019) dini hari. Teror bom molotov tersebut terjadi di rumah Syarief di daerah Kalibata Selatan, Jakarta Selatan.

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai mempertimbangan pembekalan senjata bagi unsur pimpinan dan pegawai usai serangkaian teror bom, beberapa waktu lalu. KPK mulai merampungkan rencana mitigasi lewat pembentukan tim yang berkoordinasi dengan Polri.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengaku, pimpinan KPK telah membentuk sebuah tim mitigasi risiko pengamanan secara internal. ”Itu standar keamanan saya kira, ya. Persenjataan secara internal artinya melalui pengaturan KPK. Berarti kami harus berkoordinasi dengan Polri karena izin penggunaan senjata tetap pada Polri,” ujar Febri kepada Fajar Indonesia Network, kemarin (13/1).

Febri memaparkan, kinerja tim koordinasi berjalan efektif tepat setelah teror bom di kediaman dua pimpinan, yaitu Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M. Syarief terjadi. Tim tersebut terdiri atas unsur penindakan, pengawas internal, dan biro hukum KPK.

”Jika dibutuhkan beberapa hal atau KPK menemukan beberapa informasi maka tim koordinasi ini lah yang akan berhubungan dengan Polri,” tukasnya.

Wacana pembekalan senjata bagi personel KPK juga disampaikan Ketua KPK Agus Rahardjo. Dikatakan, pertimbangan tersebut masih dalam tahap evaluasi oleh tim koordinasi yang telah dibentuk. ”Misalnya, nanti petugas KPK akan dilengkapi dengan senjata tertentu. Kita sedang mengevaluasi,” kata Agus.

Agus menegaskan, jaminan keselamatan para pegawai KPK mesti ditingkatkan. Sebab, pemberantasan korupsi tidak akan maksimal jika ancaman berupa teror masih membayang-bayangi KPK.

Pasca teror bom pipa dan molotov yang menimpa kediaman dua pimpinannya pada 9 Januari 2019 lalu, KPK terus berupaya meningkatkan mitigasi risiko pengamanan. Hal ini sebagai salah satu langkah agar tidak ada lagi pegawai yang mengalami kekerasan saat menjalankan tugas memberantas korupsi.

Terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menegaskan, jika sampai saat ini tim masih terus bekerja untuk mengungkap kasus tersebut. ”Belum ada update terbaru, tim masih bekerja,” ucap Argo.

Argo menambahkan, pasca insiden teror bom di dua rumah pimpinan KPK itu sampai malam tadi, anggota patroli masih rutin bertugas di dua lokasi tersebut guna memastikan, situasi aman dan kondusif.

”Dalam tugas patrolinya selain melakukan pemantauan di dua rumah pimpinan KPK itu. Anggota turut menyampaikan imbauan kepada warga apabila, menemukan hal-hal mencurigakan, dan memerlukan polisi secepatnya, segera menghubungi kantor polisi terdekat,” imbuh Argo.

Sebelumnya, Ketua KPK Agus Raharjo mengaku, ancaman teror ini sama sekali tidak membuatnya takut atau gentar, untuk dapat tetap menjalankan tugasnya memberantas korupsi. Bahkan, usai teror bom itu, dia tetap beraktivitas seperti biasa.

”Jangan membuat kita takut. Justru, dengan teror ini kita harus terus berjuang. Dukungan dari Anda jelas sangat dibutuhkan,” ujar Agus.

Lebih jauh, dia pun mengaku juga, sudah mendengar kabar terkait teror bom yang ada dirumah miliknya, sejenis bom pipa ternyata hanya bom palsu dengan berisi semen putih, bukan mesiu. meski begitu, menurut dia, tetap saja pelaku ingin mengirimkan pesan.

Akan tetapi, soal apa latarbelakang aksi teror yang menimpa dirinya dan Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarif itu. Mantan Ketua LKPP ini tidak ingin berspekulasi, dan lebih memilih menyerahkan kasusnya kepada polisi. (riz/fin/tgr)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.