154

Jumlah Saksi Terus Bertambah

ISTIMEWA / FAJAR INDONESIA NETWORK
TEROR MOLOTOV: Rumah Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M. Syarief dikabarkan dilempar bom molotov oleh orang tidak dikenal. Kejadian tersebut berlangsung pada Rabu (9/1/2019) dini hari. Teror bom molotov tersebut terjadi di rumah Syarief di daerah Kalibata Selatan, Jakarta Selatan.

JAKARTA – Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan secara marathon terhadap 17 saksi terkait teror yang dialami Ketua KPK Agus Raharjo dan Wakil Ketua Laode M. Laode M. Syarif, kemarin (10/1).

Pemeriksaan 17 saksi itu dilakukan di dua lokasi berbeda. Sebelas saksi dari masyarakat yang berada di lokasi rumah Laode, Jalan Kalibata Selatan, Jakarta Selatan. Sementara enam saksi lainnya rumah terdekat Agus Rahajo di Perumahan Graha Indah, Jatiasih, Bekasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menerangkan, ada kemungkinan saksi bertambah. Ini untuk menentukan akurasi data awal yang diperoleh. ”Untuk 11 dari keluarga korban, orang yang tinggal di situ, saksi yang jualan didepan rumah korban, dan tetangga kanan, kiri korban. Dan beberapa saksi mengaku mendengar pecahan gelas dan suara motor melintas,” kata Argo.

Salah satunya, saksi penjual bubur disana mengaku melihat ada orang datang ke tempat berjualannya. Orang tersebut diketahui menanyakan rumah ketua RT dan rumah Agus.

Sementara itu, mendengar adanya teror yang ditujukan kepada pimpinan KPK tersebut, mantan juru bicara KPK, Johan Budi, mengaku tak kaget dengan hal itu. Dia malah bercerita, dulu saat dia masih menjabat sebagai juru bicara di KPK, dirinya juga pernah diteror.

Johan kembali membuka memorinya ketika dia menerima teror saat masih menjabat sebagai juru bicara KPK. Meski pengamanan kepada para pejabat KPK telah diperketat, namun tetap saja mereka tidak bisa diawasi 24 jam penuh.

”Mungkin di sela-sela itu ada pihak-pihak yang tidak suka kepada KPK, kepada siapapun, kepada pimpinan, apakah ke penyidik, apa ke pegawai, itu melakukan intimidasi yang tujuannya bisa bermacam-macam, intimidasi itu ancaman itu,” kata Johan, kemarin.

Dia juga mengaku, kejadian teror kepada para pejabat KPK juga pernah dia alami. Saat itu, Johan sedang mengendarai mobil ketika mobilnya pernah ditabrak oleh seseorang. ”Pernah itu naik mobil. Ditabrak dari samping itu, saya gak tahu itu bagian dari teror apa gak ya. Tapi saya pernah mengalami itu,” ujar Johan.

Selain itu, Johan mengaku bahwa selang radiator mobil pernah digunting oleh seseorang. Menurutnya, karena pekerjaannya cukup berisiko, sehingga banyak yang tidak suka. ”Anda tahu pekerjaan saya kan dulu mengumumkan tersangka, tentu banyak orang yang tak suka, ada pihak-pihak yang tak suka,” ungkapnya.

Terkait dengan teror-teror yang diterima oleh para petinggi KPK, Johan menyampaikan bahwa itu kemungkinan karena masalah pribadi. Sehingga, belum tentu karena sebuah kasus yang akan diungkap.

”Itu mungkin masalah pribadi. Gak bisa dihubungkan (dengan kasus yang akan diungkap). Belum tentu ada kaitannya dengan satu orang atau satu kasus. Dan teror di KPK bukan hanya fisik, tapi juga magic itu juga pernah,” imbuhnya.

Senada diutarakan mantan Ketua KPK Antasari. ”Jangankan diteror. Saya sempat disel ini ya, tidak lain juga karena ada rasa ketidakinginan saya berada di KPK. Problemnya ya karena dinilai mengganggu,” tandasnya.

Meski demikian, dia yakin, KPK akan tetap kuat sejalan dengan sikap independensi penegakkan hukum yang terus terjaga. ”KPK itu kuat. Saya katakan percuma teror itu dilayangkan KPK. Instrumennya tetap berjalan. Dan sejalan dengan komitmennya,” tandasnya.

Antasari pun turut prihatin atas teror yang menimpa Agus Raharjo dan Laode. “”Mereka (Agus dan Laode) orang-orang baik. Integritasnya tidak usah kita ragukan lagi. Mudah-mudahan Polri segera menuntaskan kasus ini,” timpalnya.

Sebelumnya Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, tim khusus saat masih bekerja dan baru menganalisa CDR yang ada di CCTV. Selain itu, memeriksa sejumlah saksi-saksi di lapangan.

”Tim ini dipimpin oleh Kadensus 88, saat ini mereka berkumpul untuk menganalisa secara komprehensif temuan alat bukti yang ada di lapangan, serta CDR yang ada di CCTV guna mengungkap pelaku dalam aksi teror di kediaman dua pimpinan KPK ini,” jelas Dedi.

Sementara terkait apa saja temuan di lapangan di dua lokasi itu, diakui Dedi, pihaknya memastikan untuk teror di rumah ketua KPK bukan bom dari hasil Labfor bom itu, adalah fake bomb adalah bom palsu.

”Jadi, setelah paralon dibuka oleh Labfor didalamnya memang ada paku dan serbuk putih, tapi serbuk itu ternyata hanya semen putih. Kabel tidak terhubung detonator. tidak terhubung dengan timer. Sehingga bisa dipastikan itu rangkaian fake bom atau bom palsu,” tutur Dedi.

Dedi menambahkan, pihaknya memastikan untuk berkomitmen tidak hanya dalam kasus ini tapi, setiap kasus yang terjadi akan menyelesaikan secara komprehensif, dan secepat mungkin. Dan perlu diketahui, setiap kasus yang ditangani polisi memiliki karakter yang berbeda-beda.

”Setiap kasus yang ditangani itu, tidak bisa dibandingkan. Polri bekerja atas pembuktian ilmiah dan fakta hukum. Kalau katanya, tanpa fakta hukum itu kita sedikit abaikan,” tandas Dedi.

Terakhir, langkah pengamanan terhadap pimpinan KPK pasca insiden ini. Dedi menyampaikan, Polri sudah melakukan koordinasi dengan jubir KPK terkait penambahan pengamanan kepada pimpinan KPK.

”Pada prinsipnya, dari segi mitigasi ancaman saat ini pengamanan cukup. Apabila ada eskalasi ancaman meningkat dari hasil analisa dan SOP dari KPK kalau mau ada penambahan, kepolisian sudah menyiapkan. Jadi, bila perlu ada penebalan kita tebalkan,” pungkasnya. (mhf/fin/ful/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.