Generasi Muda Melawan Hoax

73

BUKAN rahasia bila segen­ggam kekuasaan, lebih ber­harga dari sekeranjang kebe­naran. Begitulah sepenggal lirik dari lagu grup band Dewa berjudul Bukan Raha­sia. Kalimat tersebut meng­gambarkan kondisi politik Indonesia hari ini, di mana hanya karena ingin menda­patkan kekuasaan, seseorang tega untuk mengorbankan kebenaran. Politikus meny­ebarkan kabar bohong guna menggiring opini publik yang menguntungkan kandidat politiknya.

Awal tahun baru ini kita di­ramaikan dengan tiga hoax yang diproduksi salah satu kubu dalam kontestasi Pilpres 2019.

Pertama adalah hoax 7 kon­tainer surat suara yang sudah dicoblos. Padahal, jangankan dicoblos, dicetak saja belum. Kedua hoax pembangunan Tol Cipali tanpa utang, ke­nyataannya tol Cipali dibangun dari sindikasi pinjaman dalam negeri. Ketiga hoax selang cuci darah digunakan 40 kali, hal ini segera diklarifikasi oleh pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Yang membuat miris adalah masih banyak masyarakat kita yang memaklumi bahkan mencari pembenaran dari pernyataan hoax tersebut. Bahkan saat hoax tersebut dikritik, sebagian pihak men­galihkan topik mencari kesa­lahan pada paslon lawannya.

Saat masyarakat menjadi permisif terhadap hoax asal­kan menguntungkan paslon dukungannya, hal ini adalah tanda-tanda dekadensi moral yang akut. Hoax tetaplah hoax dari manapun dia bera­sal, apakah dari kandidat yang kita dukung atau tidak.

Mungkin benarlah sebuah ungkapan yang cukup po­pular, bahwa intelektual boleh salah namun tak boleh bohong. Politisi boleh bohong tak boleh salah. Walaupun menggambarkan real yang terjadi, namun jelas gamba­ran politisi dalam ungkapan tersebut sama sekali tak ideal. Seorang politisi haru­slah selaras antara perka­taan dan perbuatan.

Satu-satunya pihak yang dengan berani menyatakan perlawanan terhadap hoax adalah PSI. Partai baru dengan nuansa anak muda yang kental tersebut mem­berikan award” kepada pihak-pihak yang telah melakukan kebohongan. PSI mengemas­nya dengan bahasa anak muda yang kekinian, sesuai dengan khittahnya sebagai partai generasi millennial. Namun alih-alih melakukan introspeksi, pihak yang me­rasa tertuduh malah meny­erang balik PSI bahkan sam­pai melakukan ancaman kekerasan terhadap salah satu kader PSI.

Walaupun begitu PSI tetap mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak yang sudah muak dengan kebohongan. PSI juga tak gentar menghadapi ancaman dan intimidasi dari pihak yang terusik. PSI adalah harapan bagi bangsa yang datang dari generasi muda yang menginginkan perubahan. PSI bagaikan Socrates yang mengusik zona nyaman ma­syarakat pada masa Yunani Kuno, walaupun pada akhir­nya Socrates harus mem­bayar idealismenya dengan hukuman mati.

Penulis percaya bahwa masih banyak generasi mu­da yang sadar akan bahaya hoax. Maka dari itu gene­rasi muda jangan diam dan melihat media social kita dipenuhi dengan konten-konten hoax. Generasi mu­da harus bangkit melawan dengan melakukan penya­daran dan memberikan in­formasi-informasi tanding­an penangkal hoax. (*)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.