38

BPBD Ingatkan Soal Potensi Longsor

PERLU WASPADA: Sejumlah petugas terlihat sedang membersihkan pasca longsor di Lembang beberapa waktu lalu. BPBD mengingatkan masyarakat akan tingginya potensi longsor di musim hujan saat ini.

NGAMPRAH – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat terus mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi terjadinya bencana longsor. Hal itu dikarenakan curah hujan beberapa terakhir ini cukup tinggi.

Seperti diketahui, Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu wilayah di Jabar yang memiliki kerawanan bencana tinggi. Kontur wilayah yang didominasi dataran tinggi, perbukitan, gunung, dan tebing, membuat daerah pecahan dari Kabupaten Bandung ini setiap tahun dilanda tanah longsor.

“Sekarang sudah memasuki musim hujan yang cukup tinggi. Sehingga kami terus mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terutama pada malam hari. Berdasarkan hasil rekapitulasi data kami sepanjang tahun 2018 lalu, bencana longsor masih dominan dibandingkan bencana lain,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB Duddy Prabowo, kemarin.

Duddy mengemukakan, tahun lalu tercatat ada sebanyak 150 bencana longsor di KBB. Kemudian diikuti kebakaran 57 kejadian, puting beliung 47, pergerakan tanah 30, banjir bandang 6, dengan total kejadian sebanyak 290.

Akibat bencana itu tercatat lima orang meninggal dunia, yakni 2 orang akibat tertimbun longsor di Kampung Bonjot, Sindangkerta, 1 tertimpa pohon di Cipatat, 1 tertimbun pasir di Cikalongwetan, dan 1 tertimpa reruntuhan tebing penahan tanah di Cililin.

Menurut dia, jumlah kejadian bencana itu naik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada 2015 hanya terjadi 191 kejadian dengan korban jiwa meninggal 4 orang.

Kemudian pada 2016, terjadi 229 bencana dengan korban meninggal 4 orang, dan 2017 terjadi 248 bencana dengan 2 orang meninggal dan 6 luka-luka. Sementara pada 2018 terjadi 290 kejadian bencana jumlah jiwa terdampak mencapai 1.976 dan total rumah rusak 516 unit.

“Memang secara kasus terjadi peningkatan kejadian bencana di 2018 lalu. Faktor penyebabnya adalah cuaca ekstrem yang tidak menentu, terutama terjadinya hujan lebat secara tiba-tiba dengan intensitas yang tinggi,” ujar Duddy.

Sejauh ini, pos anggaran dana tidak terduga tahun lalu sebesar Rp 5,5 miliar hanya terpakai Rp 1,1 miliar untuk penanganan longsor di Kampung Bonjot. Tahun ini pun alokasi anggaran yang sama, Rp 5,5 miliar, disiapkan bagi penanggulangan bencana darurat di KBB.

Upaya preventif lainnya dalam meminimalisasi dampak bencana adalah dengan memaksimalkan fungsi mitigasi. Seperti pembentukan Desa Tangguh Bencana dan program Sekolah Siaga Bencana.

“Saat ini Desa Tangguh Bencana di KBB baru dua yakni di Desa Cikahuripan, Lembang, dan Desa Cintaasih, Cipongkor. Ke depan kami ingin semua desa di KBB menjadi Desa Tangguh Bencana sesuai format RPJMD dimana mitigasi bencana masuk dalam isu strategis untuk memberikan pemahaman dan kesadaran di masyarakat. Jika hal ini dilakukan maka akan mengurangi korban jiwa akibat bencana alam,” tandasnya. (drx)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.