Usut Tuntas Motif Pelaku Penyerangan Tokoh Agama

52

BANDUNG –  Kordinator Wilayah 3 DKI Jakarta, Banten, Jabar, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (Korwil 3 PP GMKI), Theo Cosner Tambunan mengutuk tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap pemuka agama.

Pernyataan tersebut disampaikan melihat akhir-akhir ini banyak berbagai peristiwa penganiayaan kepada para pemuka agama yang menyebabkan luka parah hingga meninggal dunia.

Theo menilai, melihat kasus-kasus yang terjadi diduga tidak berdiri sendiri namun sudah terangkai. Bahkan, selalu dikaitkan dengan isu kebangkitan PKI. Apalagi, mengingat saat ini tahun politik jelang Pilkada semakin dekat.

Dirinya mencontohkan, penganiayaan yang dilakukan terhadap pengasuh pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka Bandung Barat, KH Umar Basri dan pemukulan Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto yang mengakibatkan sampai meninggal dunia menjadi sederet tragedi buruk yang menimpa para pemuka agama di negeri ini.

Baca Juga:  Pentingnya Penanganan Pertama Cidera

“ Kejadian tersebut memiliki pola penyerangan yang sama yaitu dilakukan oleh orang yang tidak waras,’’kata Theo ketika ditemui kemarin (12/2)

Kendati begitu, berbagai kasus tersebut bisa saja merupakan suatu kebetulan, namun bisa jadi ada motif lain yang ingin disampaikan otak pelaku dibalik penyerangan.

Selain itu, peristiwa serupa terjadi di Yogyakarta, Romo Karl Edmund Prier S.J yang sedang memimpin misa di Gereja santa Lidwina Sleman tiba-tiba diserang oleh seorang pemuda dengan menggunakan senjata tajam.

Pada peristiwa tersebut Romo Pries dirawat di ruang intensive care Unit Rumah Sakit Panti Rapih akibat terluka kena sabetan senjata tajam.

Baca Juga:  Tiga Paslon Lolos Uji Kesehatan

Melihat berbagai peristiwa tersebut, sampai saat ini belum ada alasan pasti dibalik penyerangan terhadap pemuka agama. Namun, pihak kepolisian harus cepat mengungkap motif dibalik penyerangan tersebut.

Pria yang berprofesi sebagai Advokat ini menilai, bahwa tindakan penyerangan yang dilakukan terhadap pemuka agama merupakan tindakan intoleran dan tidak bertanggungjawab karena hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama manapun.

Dirinya menambahkan, dalam waktu dekat negara kita akan melaksanakan Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 sehingga perlu suasana kondusif dalam menyambut pesta demokrasi. Tetapi, selalu saja ada isu dimainkan untuk menghilangkan kepercayaan publik terhadap pemimpinnya.

Baca Juga:  Dialog Bisa Antisipasi Perpecahan

’’ Saya berharap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga masyarakat dapat beraktifitas seperti biasanya” pungkas Theo

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here