Tugas Pokok Kepala Sekolah Sebagai Manajer Taman Siswa

1213

LAYAKNYA sebuah taman, sekolah sejatinya menyajikan keindahan, kesejukan, ketentraman dan kesejahteraan bagi warga sekolahnya. Itulah sebabnya mengapa Ki Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai “Taman Siswa”. Konsep-konsep kontemporer tentang “Sekolah Adiwiyata, Sekolah Berwawasan Lingkungan, Sekolah Hijau, Sekolah Ramah Anak, Sekolah Alam dll” sesungguhnya hanyalah fragmentasi dari konsep mulia sekolah sebagai “Taman Siswa” tersebut.

Terbayang dalam benak kita betapa semua daya upaya lahir dan bathin dalam sebuah proses yang berlangsung di sekolah ini berorientasi pada kepentingan siswa (student centered) baik penataan fisik dan budaya sekolahnya maupun cara mengemas dan menyajikan kurikulumnya. Dalam taman siswa ini, kepala sekolah, guru-guru, orangtua / masyarakat dan tenaga kependidikan lainnya hadir secara utuh semata-mata untuk memuliakan siswanya dalam rangka membangun peradaban masa depan yang badlatun thoyibatun warobun ghofur.

Saat ini dalam situasi dan kondisi pasca transisi alih kelola penyelenggaraan pendidikan (menengah) terlebih-lebih di daerah-daerah yang baru saja menyelenggarakan pemilukada, sangat mungkin dalam kasus tertentu gambaran sekolah sebagai taman siswa hanyalah merupakan imajinasi belaka dari akibat keinginan “oknum” tertentu yang menjadikan sekolah dengan seluruh civitas akademiknya bukan sebagai taman siswa melainkan sebagai moda mobilisasi kepentingan politik. Namun walaupun demikian mari kita lupakan pemilukada dengan segala dampak ikutannya khususnya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Selanjutnya sejenak marilah kita melakukan tamasya mental (roundtripmental) berupa pengembangan kemampuan sebagai seorang kepala sekolah penjaga dan pemelihara taman siswa sekalipun mungkin harus secara imajiner, untuk siapapun yang merasa dirinya sebagai kepala sekolah atau calon kepala sekolah tanpa harus bertanya mengapa dan bagaimana caranya bisa menjadi kepala sekolah atau calon kepala sekolah. Ini sekedar common sense yang harus diketahui bersama.

Tamasya mental kita yang pertama adalah studi dokumen terhadap Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 yang ditetapkan dan diundangkan pada tanggal 22 Maret 2018 dan pada tanggal 9 April 2018 khususnya tentang Tugas Pokok Kepala Sekolah sebagaimana diuraikan dalam  Pasal 15 ayat (1) yang menyatakan bahwa beban kerja Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan. Selain konsep klasik manajerial kepala sekolah yang telah lama ada dan diakronimkan sebagai EMASLIM (Educator, Motivator, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, Manager), Permendikbud ini lebih  menegaskan adanya 3 aspek strategis peran kepala sekolah dalam menjaga dan memelihara sekolah sebagai taman siswa yaitu aspek manajerial, pengembangan kewirausahaan dan supervisi. Uraian selanjutnya tulisan ini lebih menyoroti aspek manajerial dan sedikit aspek kewirausahaan dan supervisi.

Studi terhadap aspek manajerial mengantarkan kita pada salahsatu definisi manajemen seperti yang dikemukakan oleh Henry Mintzberg (1990)  yaitu orang yang bertugas untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengatur bagaimana timnya bekerja mencapai tujuan yang ditetapkan. Lebih lanjut menurut penelitian yang dilakukannya dan dipublikasikan dalam ”Mintzberg on Management: Inside our Strange World of Organizations” pada tahun 1990, disebutkan bahwa terdapat 10 peranan dasar manajer yang digolongkan menjadi tiga kategori dasar yaitu Interpersonal roles (peran antarpribadi), Informational roles (peran informasional) dan decisional roles (peran keputusan). Untuk mewujudkan sekolah sebagai taman siswa maka integrasi dan sinergitas ketiga kategori dasar ini adalah keniscayaan bagi siapapun dan dengan cara apapun   menjadi kepala sekolah.

Kategori Peran Antarpribadi (Interpersonel roles) ini adalah kategori peran seorang manajer untuk memberikan informasi dan ide. Dengan tambahan beberapa catatan dari penulis, wujudnya dapat berupa:

(1) Sosok atau Figur (Figurehead) yang memiliki tanggung jawab terhadap aspek legal, sosial, seremonial dan juga bertindak sebagai simbol lembaga (sekolah), ia diharapkan menjadi sumber inspirasi. Dalam konteks ini kepala sekolah sebagai seorang manager tidak bisa abai terhadap pikiran, ucapan dan penampilannya dalam bahasa Sunda dikenal dengan istilah  “hadé gogog hadé tagog” sebagai panutan bagi seluruh warga sekolahnya. Kemampuan berpikirnya selalu memberikan solusi dan senantiasa menawarkan pemecahan masalah, ia adalah sosok ”part of solution not part of problem”, loyalitasnya dibangun diatas dasar profesionalisme bukan atas dasar komitmen materialistik dan kepentingan pribadi.

Ucapannya halus, runtut namun tegas serta mampu mengatur ritme intonasi suara ketika berorasi, tidak suka berghibah dan senantiasa tabayyun. Penampilannya bersih, rapih dan fasionable menjadi rujukan bagi anakbuahnya,

(2) Pemimpin (Leader) seorang manajer bertugas sebagai pemimpin di sekolahnya. Menyeleksi, melatih dan mengelola kinerja serta memotivasi guru dan tenaga kependidikannya untuk diberi amanah membantu dirinya; Paham betul peta dan potensi budaya organisasinya, cermat dalam mengimplementasikan konsep “the right man in the right place”, tidak diarahkan anak buahnya tapi sebaliknya mengarahkan anak buahnya, bukan tipe “one man show” dan tidak pula otoriter karena  tidak segan memberikan reward and punishment selain piawai mengubah tantangan dan ancaman menjadi kekuatan dan peluang, tidak ditakuti tetapi disegani. Sungguh-sungguh melaksanakan konsep “Ing madya mangun karso, ing ngarso sung tulodo, tut wuri handayani”.

(3) Penghubung (Liaison) seorang manajer harus membangun dan menjaga komunikasi dengan kontak internal maupun eksternal lembaganya. Cermat, cerdik dan bijak dalam mengatur stafnya. Santun, apik dan tegas dalam memposisikan komite sekolah sebagai mitra, hangat dan bersahabat serta tertib dan profesional terhadap uluran partisipasi masyarakat, terbuka tetapi tetap waspada terhadap kerjasama dan senantiasa mengembangkan dan memperluas jaringan (networking) melalui optimalisai penggunaan teknologi informasi.

Selanjutnya sejalan dengan tuntutan era disrupsi, kepala sekolah sebagai manajer memiliki peran informasional sebagai pengelola informasi. Dengan tambahan catatan dari penulis, tiga peran yang termasuk dalam Informational Roles adalah sebagai berikut:

(1) Pemantau (Monitor) Dalam Peran Pemantau ini, kepala sekolah sebagai seorang manajer berperan sebagai pencari informasi yang berkaitan dengan mutu proses dan output pendidikan dan tingkat kepuasan publik atas layanan yang diberikan (customer satisfaction). Seorang Manajer juga memantau tim yang dipimpinnya baik dari segi produktivitas, kinerja maupun kenyamanan kerja anggota timnya. Ia dengan mudah dapat melihat peta adanya elitisme berupa dominasi guru senior terhadap guru junior atau sebaliknya, konflik antar wakasek maupun dengan kepala tata usaha dll, bersamaan dengan itu ia mampu juga mengatasi dan mencari solusi mengatasi konflik itu yang memberi kenyamanan kerja seluruh warga sekolah.

(2) Penyebar Informasi (Disseminator) Setelah mendapatkan informasi, seorang manajer secara apik dan selektif harus menyebarkan dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada guru, tenaga kependidikan, siswa maupun orangtua siswa dan komite sekolah yang ada di sekolahnya, mampu menyeleksi dan mengemas informasi inter dan antar stafnya sehingga menjadi informasi yang bermutu. Kreatif dalam memberikan penguatan atas pesan-pesan yang disampaikan dengan menyertakan beragam quote atau kalimat-kalimat bijak relligius baik melalui pesan WhatsApp maupun fitur aplikasi lainnya dalam gagnet. Contoh peran penyebar informasi seorang manajer seperti menggunakan beragam aplikasi dalam gagnet untuk menyampaikan memo, email atau penjelasan kepada bawahannya mengenai informasi dan keputusan yang telah diambil.

(3) Juru Bicara (Spokesperson) Kepala Sekolah sebagai seorang manajer juga berperan sebagai Juru Bicara yang meneruskan informasi tentang sekolah berikut dengan visi, misi dan tujuan sekolahnya  ke pihak luar. Ia harus menjadi orator ulung menyampaikan program dan potensi sekolahnya dihadapan rapat-rapat komite dan musyawarah orangtua siswa serta para alumni dan stakeholder pendidikan lainnya.

Selanjutnya amanat Pasal 15 ayat (1) yang menyatakan bahwa beban kerja Kepala Sekolah diantaranya melaksanakan tugas pokok pengembangan kewirausahaan, terwakili dalam peran manajerial Kepala Sekolah sebagai Pengambil Keputusan (Decisional Roles)  yang  diantaranya berperan sebagai Wirausahawan, Pemecah masalah, pembagi sumber daya dan perunding. Dengan beberapa catatan dari penulis berikut ini adalah penjelasannya.

(1) Wirausahawan (Entrepreneur) Kepala Sekolah sebagai seorang manajer harus mampu membuat suatu perubahaan dan mengendalikannya untuk kemajuan sekolahnya. Peran manajer disini adalah memecahkan masalah dan menghasilkan ide-ide baru serta menerapkannya di sekolah. Manajer harus merencanakan masa depan sekolahnya, membuat proyek-proyek perbaikan dan peningkatan kualitas proses dan output pendidikannya serta citra dan performa sekolahnya.

(2). Pemecah masalah (Disturbance Handler), Setiap Kepala Sekolah dalam memimpin sekolahnya pasti menemukan masalah dan hambatan dalam operasionalnya. Ketika suatu permasalahan atau hambatan terjadi, ia harus  bertanggung jawab untuk menyelesaikannya, jika terjadi konflik diantara anggota timnya, kepala sekolah harus menjadi penengah dan mencarikan alternatif strategis untuk menyelesaikan konflik tersebut.

(3) Pembagi Sumber Daya (Resource Allocator) Kepala Sekolah sebagai seorang manajer juga berperan sebagai pembagi sumber daya yaitu menentukan dimana sumber daya tersebut harus dialokasikan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Sumber daya yang dimaksud disini dapat berupa dana, tenaga kerja, material, mesin dan sumber daya lainnya.

(4). Negosiator (Negotiator) Kepala sekolah sebagai seorang Manajer adalah juga seorang Negosiator. Moment-moment kedinasan seperti rapat dinas intern pendidikan vertical dengan para pejabat structural maupun musyawarah para kepala sekolah secara horizontal adalah sarana untuk menguji kemampuan negosiator ini, tidak kalah pentingnya adalah berpartisipasi atau mengambil bagian dalam melakukan negosiasi dengan pihak luar untuk memperjuangkan kepentingan pendidikan di sekolahnya.

Sebagai penjaga dan pemelihara “taman siswa” dengan kurikulum sebagai ruhnya, salahsatu bentuk supervisi yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah diantaranya adalah dengan menyuguhkan dan melakukan pengawasan dan pembinaan dalam kreativitas dan pengembangan kurikulum yang kontekstual dengan tuntutan kemajuan jaman. Kurikulum-kurikulum yang menyangkut akhlak dengan tujuan menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi, kurikulum yang berkaitan dengan logika atau apply science and technology dengan pendekatan STEM, Lesson Study, Portofolio dll, kurikulum kepemimpinan atau leadership yang  dijalankan dengan aneka kegiatan outbound dan kurikulum bisnis dan entreupreuneur dengan tujuan membuat orang bisa mencari nafkah adalah alternatif pilihan yang bisa diterapkan untuk menjadikan sekolah sebagai taman siswa.

Pada akhirnya cerita keberhasilan kepala sekolah melaksanakan amanah tugasnya sebagai manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi untuk menjadikan sekolah sebagai taman siswa sangat bergantung pada kualitas pribadi kepala sekolah itu sendiri dalam meniatkan etos kerja profesionalnya.

Pada masanya Sayidina Ali telah menyampaikan etos kerja professional sebagai berikut: “kerja adalah ibadah aku bekerja khusu penuh pengabdian, kerja adalah amanah aku bekerja benar penuh integritas, kerja adalah rahmat aku bekerja  ikhlas penuh rasa   syukur”.

Bandung, 11 Agustus 2018.

*Asep Hilman, Pemerhati pendidikan dan pengajar di Program Magister Prodi Pendidikan B.Indonesia Unpas dan Prodi Magister Manajemen Unwim Bandung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.