Toleransi Perlu Ditanamkan Sejak Dini

65
toleransi
AJAK BERMAIN: Sejumlah anak-anak meperagakan berbagai permainan tradisional sebagai bentuk untuk menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai bentuk-bentuk perbedaan.

CIMAHI – Isu Suku Adat, Ras dan Agama (SARA) masih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi beberbagai pihak dalam menghadapi Pilkada pada tahun ini.

Hal ini diungkapkan Project Officer Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) Kota Cimahi, Risma Rahmawati bahwa, isu Sara tidak boleh berkembang. Sebab, akan membuat perpecahan dan menghilangkan rasa ke Bhinekaan di Indonesia.

Dirinya menilai, untuk menghindari perpecahan maka perlu inklusi dan toleransi harus dikenalkan kepada anak sejak dini.
Sehingga, ketika menginjak dewasa akan ada pondasi utnuk saling meghargai bila ada perbedaan.

Baca Juga:  Waspada Modus Pecah Kaca, Polisi Amankan 2 Pelaku

’’ Jadi tidak akan termakan oleh isu isu agama yang berusaha mengadu domba,’’ kata Risma ketika ditemui kemarin (21/1)

Risma menuturkan, perlu pendekatan untuk mengembangkan lingkungan untuk semakin terbuka dengan mengajak semua orang dari berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya.

Untuk itu, Lakesdam bekerjasama dengan GREDASI (Gerakan pemuda untuk inklusi) Cimahi beranggotakan pemuda pemudi Cimahi berlatar belakang agama berbeda, melakukan kegiatan yang melibatkan sekitar 200 anak.

Kegiatan yang diberinama Festival Kaulinan Urang Lembur tersebut, anak diajak bermain, mainan jaman dulu seperti, jamparing, Hahayaman, membuat wayang dari daun singkong, Panahan, Lodong dan Ngagogo lauk.

Baca Juga:  H Yanto Setianto Serap Aspirasi

’’Dalam permainan ini anak juga diajarkan untuk saling kerjasama dalam menyelesaikan dan diajarkan bersaing secara sportif. Ini merupakan salah satu bentuk menyatukan dan memberi pelajaran tentang toleransi antar umat,’’ ucapnya.

Risma menambahkan, dipilihnya permainan jaman dulu untuk menyatukan mereka karena permainan tersebut baik untuk kesehatan dan dapat menguji perkembangan motorik anak.

Selain itu, pihaknya melihat urgensi anak menjadi semakin berkemban dengan lebih senang bila dibandingkan bermain gawai (gadget). Sedangkan, untuk acara pihaknya memilih kampung Cireundeu agar memberikan pembelajaran bahwa Cireundeu masih memegang teguh tradisi meskipun zaman sudah maju.

Baca Juga:  Unzue, Otak Set Pieces Enrique

Festival Kaulinan Urang Lembur sendiri diikuti anak anak SD se Kota Cimahi dan terbuka untuk lintas agama, sebab memang acara tersebut dibuat bertujuan membuka ruang interaksi antar warga yang berbeda keyakinan.

“Antusias anak sangat bagus. Memang anak lebih senang diajak bermain dan respon dari pemerintahpun sangat baik. pesertanya sekitar 200 anak dengan pendamping 50 orang,” bebernya. (ziz/ya).

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here