Tiket Masuk Saraga untuk Perawatan

111
SARANA FITNES: Fasilitas Saraga yang di kelola ITB memiliki tempat fines untuk menjaga kebugaran bagi Mahasiswa ITB atau Masyarakat umum.

BANDUNG – Keberadaan Sarana Olahraga Mandala Ganesha (Saraga) yang dikelola itb diakui Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Olahraga itb Tommy Apriantono sudah lama diberlakukan tiket masuk dan terbuka untuk umum.

Dia memaparkan, kebijakan ini dilakukan setelah pihak rektor itb dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menjalin perjanjian untuk pemanfaatan lahan milik Pemkot sebagai fasilitas olahraga untuk mahasiswa itb.

Namun, setelah dibangunnya beberapa fasilitas olahraga atas persetujuan dari pihak itb, Saraga akhir dibuka untuk umum. Sedangkan, untuk biaya tiket masuk masih terbilang murah dan terjangkau.

Kendati begitu, sesuai dengan perjanjian untuk pengembangan pendidikan, Saraga tetap memprioritaskan untuk seluruh mahasiswa itb atau untuk kegiatan latihan dan pemanasan para atlet.

’’ Ketika ada penyelenggaraan PON atau Pelatda Saraga selalu digunakan dan ini juga prioritas kami juga,” jelas Tomi ketika di hubungi Jabar Ekspres kemarin (10/4)

Dia membantah, jika Saraga di komersilkan untuk mengambil keuntungan. Sebab, selama ini sejumlah tarif tiket masuk dibebankan hanya cukup untuk biaya perawatan dan gaji pegawai yang berjumlah 40 orang.

Dia menyebutkan, fasilitas Saraga selama ini, terbilang komplit di antaranya Lapangan Sepak bola, Lintasan atletik, kolam reanang 4 jenis, sarana fitnes, Futsal, lapangan Volly, Lapangan Basket dan Lapangan Tenis.

Selain itu, untuk jumlah pengunjung setiap harinya bisa mencapai ratusan lebih dengan tiket yang masih terjangkau baik untuk umum atau kalangan mahasiswa.

Meski begitu, Tommy enggan untuk menyebutkan berapa perolehan pendapatan per harinya. Namun, untuk hasil tiket yang dibebankan kepada pengunjung langsung di setorkan ke pihak keuangan itb. Bahkan, untuk biaya sewa Saraga ke Pemkot Bandung dibayarkan per tahun ke Biro Aset oleh bagian keuangan itb juga.

’’ Kalau pendapatannya saya tidak tahu soalnya pihak itb langsung mengambilnya dan bayar sewa ke Pemkot,” ucap dia.

Tommy menambahkan, untuk perjanjian sewa lahan dilakukan semenjak 1991. Waktu itu, digunakan untuk kepentingan pengembangan pendidikan. Sedangkan, gedung Sabuga memiliki manejemen berbeda.

’’ Jadi kalau ingin mengetahu berapa pendapatan, biaya operasional, dan biaya sewa ke Pemkot bisa tanya langsung ke bagian keuangan itb saja,”pungkas Tommy. (mg3/yan)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.