Tempat Schwarzenegger Telanjang

Griffith Park, Lokasi Langganan Syuting Film Hollywood

76
RETNA CHRISTA/JAWA POS
SCREEN-FRIENDLY: Griffith Observatory, salah satu ikon Griffith Park, telah muncul di ratusan judul film Hollywood, termasuk Terminator dan La La Land.

Sebagai homebase industri film terbesar di dunia, Los Angeles punya ratusan tempat yang pernah menjadi lokasi syuting. Salah satu yang paling populer di kalangan filmmaker adalah Griffith Park. Wartawan Jawa Pos Retna Christa berkesempatan mengunjunginya pekan lalu.

PADA 2015 Griffith Park menempati peringkat tertinggi lokasi yang paling sering dijadikan tempat syuting di Los Angeles. Baik film maupun televisi. Selama 2014 saja, tercatat ada 322 film dan serial TV yang gambarnya diambil di taman tersebut. Itu berdasar data FilmLA Inc, lembaga nonprofit yang mencatat perizinan produksi sinema.

Data tersebut klop dengan sejarahnya. Sejak produksi film mulai booming pada dekade 1950-an, taman yang terletak di lereng timur Pegunungan Santa Monica itu sering dijadikan lokasi syuting film box office. Misalnya, Rebel Without a Cause, film keluaran 1955 yang dibintangi American heart-throb kala itu, James Dean.

Griffith Observatory, observatorium yang berada di tengah taman, tak hanya menjadi lokasi syuting, tapi juga setting kejadian dalam film. Saking ikoniknya film itu, di salah satu sudut halaman didirikan monumen Dean setinggi 2 meter.

Griffith Observatory juga menjadi setting film Terminator (1984). Tepatnya ketika cyborg pembunuh T-800 (diperankan Arnold Schwarzenegger yang lagi kekar-kekarnya) baru tiba dari masa depan. Tanpa baju, dia berjalan dari arah halaman observatorium, lalu memandang Los Angeles dari ketinggian, mencari John Connor.

Karya baru yang mengambil setting di kawasan Griffith Park adalah film cantik nomine Oscar tahun lalu, La La Land. Judul terakhir itulah yang paling bikin kepingin main ke sana.

Tak sulit menuju Griffith Park. Dari perempatan Los Feliz Boulevard (yang sering dianggap sebagai pintu masuk ke Griffith Park), kita bisa naik semacam shuttle DASH yang disediakan operator Ladot. Ambil jurusan Observatory. Ongkosnya sangat murah, hanya 50 sen atau setara Rp 6.800. Kita sudah bisa menjangkau berbagai bagian Griffith Park via satu-satunya jalur aspal di sana, Mount Hollywood Drive.

Ketika bus baru beberapa menit meninggalkan Los Feliz, sudah ada beberapa turis yang turun di perhentian pertama. Mereka mengenakan T-shirt, celana kargo, dan topi. Memanggul ransel berukuran sedang, botol air minum siap di tangan. ’’Mereka mau hiking. Ini jalur trekking yang populer,’’ kata Manuel, driver DASH, yang sudah hafal dengan setiap karakter pengunjung taman.

Griffith Park memang superluas. Mencapai 1.740 hektare. Ia lebih mirip taman nasional daripada taman kota. Meliputi berkilo-kilometer persegi perbukitan, gua, hutan, ranch, lembah dan ngarai, serta danau-danau alami. Berdiri juga belasan museum dan bagunan bersejarah serta area piknik tempat anak-anak bisa naik kuda poni dan komidi putar. Plus lereng bukit tempat berdirinya tanda Hollywood yang sangat terkenal itu.

Dengan lanskap seperti itu, tidak mengherankan kalau taman tersebut menjadi semacam toserba buat produksi film. Mau setting lokasi seperti apa saja, ada. Tapi, karena saya fans berat La La Land, saya memulainya dari spot yang paling gampang dicapai: Griffith Observatory.

Dari seluruh film, adegan paling romantis antara Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) memang diambil di observatorium berdinding putih yang dibangun pada 1933 tersebut. Tepatnya ketika Sebastian mengajak Mia mengunjungi observatorium itu pada tengah malam. Tak ada pengunjung. Mereka membobol masuk, menyusuri lorong-lorongnya, lalu berdansa.

Berkebalikan dengan kondisi sunyi saat Mia dan Sebastian berkunjung, Griffith Observatory penuh turis pada Jumat siang. Mereka lesehan di halaman rumput yang bermandi cahaya matahari, selfie, bergantian mengamati objek dengan teleskop Zeiss yang tersebar di rooftop, hingga mencoba berfoto dengan background Hollywood sign di kejauhan.

Bagian dalamnya tak kalah riuh. Keluarga-keluarga berjejalan mengitari Pendulum Foucault yang menunjukkan pergerakan rotasi bumi. Secara bertahap, bandul menyentuh batang-batang kayu mungil yang dipasang di dasar pendulum, menunjukkan pergantian hari dari siang ke malam. Dalam film, Mia dan Sebastian berdansa mengitari pendulum, sesuai arah bandul.

Apakah di kehidupan nyata hal itu dimungkinkan? ’’Well, kami tutup pukul 22.00 tiap hari. Tapi, pengunjung masih bebas duduk-duduk di halaman atau naik-naik ke rooftop,’’ tutur Gloria, petugas di bagian informasi Griffith Observatory. ’’Cuma sih, jarang yang mau berkunjung setelah tutup. Kan tidak ada ekshibisi sama sekali,’’ lanjutnya.

Jadi, secara teknis, kita bisa dong menapaktilasi aksi Mia dan Sebastian? ’’Coba saja,’’ ujar Gloria, lalu tersenyum ramah.

Adegan yang paling bikin baper dalam film yang disutradarai Daniel Chazelle itu diambil di Samuel Oschin Planetarium. Di sana, Sebastian seperti mengangkat Mia ke angkasa, lalu mereka terbang dan berdansa di antara bintang-bintang. Di atas panggung berupa langit malam yang indah. Tentu saja saya penasaran berat dengan planetarium tersebut.

Tak seperti atraksi lain di observatorium, planetarium itu tidak bebas dikunjungi kapan saja. Ia hanya dibuka saat ada show. Dalam sehari biasanya ada tiga show berdurasi masing-masing 45 menit. Topiknya macam-macam. Ada perkembangan studi alam semesta, apakah ada air di luar bumi, dan sebagainya. Pengunjung harus membayar USD 7 (Rp 94 ribu) jika ingin masuk (dan menonton).

Saat itu show paling dekat adalah show pukul 13.30. Sejak pukul 13.00, pengunjung antre masuk dari lantai 2 gedung. Pintu dibuka pukul 13.15. Begitu masuk ke planetarium, segala adegan di La La Land jadi masuk akal. Ruangan itu berbentuk bulat, dengan langit-langit berupa kubah. Separo dinding hingga langit-langitnya menjadi layar raksasa dengan proyeksi langit malam.

Kursi-kursinya –yang berjumlah 290 kursi– ditata setengah melingkar, mengitari sebuah proyektor besar. Kursi-kursi itu didesain agak mendatar supaya yang menduduki otomatis setengah rebahan dan memandang langit-langit. Duduk di sana rasanya berada di tengah lapangan luas, memandang langit malam yang berwarna biru beledu.

Film semidokumenter tentang perkembangan studi alam semesta –dimulai dari zaman dewa-dewa Yunani Kuno hingga penelitian Nicolaus Copernicus– hanya sedikit menarik perhatian. Sepanjang film, yang terbayang malah Emma Stone dan Ryan Gosling yang diangkat dengan tali transparan dan menari-nari di bawah kubah planetarium yang layarnya menampilkan proyeksi langit berbintang.

Ada satu spot lagi di kawasan Griffith Park yang jadi set syuting La La Land. Yakni, Cathy’s Corner, tempat Mia dan Sebastian melakukan tap dance diiringi lagu A Lovely Night. Jika mencari di Google, kita tidak akan mendapatkan titik lokasi yang pasti. Usut punya usut, spot itu memang hanya berupa sebuah tikungan biasa di Mount Hollywood Drive.

Mau memaksa ke sana? Boleh. Di Google Maps, ada opsi naik mobil. Hanya 24 menit. Tapi, faktanya, mobil tidak bisa ke sana. ’’Bagian itu hanya bisa dilewati pejalan kaki dan pesepeda,’’ kata Edgardo, driver Uber yang saya pesan untuk mengantar ke sana.

So, satu-satunya cara ke sana adalah… jalan kaki! Edgardo tidak marah saya membatalkan pesanan. Dia malah kasihan. Sebab, saya harus menempuh jalur menanjak sejauh 2,5 mil. (*/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.