Tarif Tol Naik Hingga 7 ribu

Gara-Gara Inflasi di Kota Bandung

95
NUR AZIZ/JABAR EKSPRES
NAIK TERUS: Seorang supir box menggesekan kartu. Saat ini tarif tol di Purbaleunyi mengalami kenaikan yang bervariasi sesuai dengan tujuan dengan kisaran antara Rp 500-7.000.

BANDUNG – Tarif tol Purbaleunyi sejak Kamis (15/2) dinihari mengalami kenaikan. Sayangnya kenaikan berkisar antara Rp500-7 ribu, kurang sosialisasi sehingga menimbulkan kekecewaan dari sejumlah pengendara.

Yogi Dwi Aryanto, 28, salah seorang pengguna tol mengaku tidak pernah mengetahui akan adanya kenaikan tarif tol. Bahkan Yogi tak pernah sama sekali mendengar atau melihat sosialisasi yang dilakukan pihak Jasa Marga sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap tol.

”Di gerbang tol juga tidak ada sosialisasi. Harusnya kan pemberitahuan beberapa hari sebelumnya. Nanti kalau sudah ada kenaikan, kami pasti kaget. Harusnya tidak begitu, kalau mau ada perubahan harus terbuka,” kata Yogi dengan nada kesal saat dijumpai di di Gerbang Tol Baros II Cimahi, kemarin (14/2).

Lain lagi dengan Bambang, 46, dia terang terangan menolak kenaikan tarif tersebut. Bambang berharap keputusan PT. Jasa Marga untuk menaikkan tarif tol bisa ditunda atau bahkan dibatalkan. Kendati kenaikan hanya sedikit, namun karena dirinya setiap hari menggunakan ruas tol untuk pergi bekerja, maka akan terasa dampaknya.

”Mau naiknya hanya Rp 2 ribu atau Rp 500, tapi yang namanya setiap hari digunakan pasti terasa. Bukan masalah naiknya, tapi kan fasilitas yang diberikan juga harus disesuaikan. Apakah sampai saat ini fasilitas memadai? Untuk saya pribadi, masih belum,” ucapnya.

Berdasarkan informasi dari pihak Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, besaran kenaikan tarif tol sendiri akan berbeda-beda untuk setiap tujuannya, mulai dari Rp 500 sampai Rp 7 ribu. Penyesuaian tarif sendiri berdasarkan pada keputusan Menteri PUPR Nomor 96/KPTS/M/2018 yang diatur dalam Undang-Undang No. 38 tahun 2004 Pasal 48 ayat 3 tentang Jalan Tol.

Humas PT. Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, Dadan Saripudin mengungkapkan, penyesuaian tarif di Jalan Tol Purbaleunyi didasari laju inflasi di wilayah Bandung. Besaran inflasi periode Oktober 2015 hingga September 2017 di wilayah Bandung sebesar 6,30 persen.

”Sebenarnya penyesuaian tarif tol memang harus dilakukan setiap dua tahun sekali untuk menyesuaikan dengan laju inflasi di daerah,” ungkapnya, saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Menurut Dadan, tarif tol awal dihitung berdasarkan kemampuan bayar pengguna jalan tol, besar keuntungan biaya operasi kendaraan, dan kelaikan investasi. Sedangkan perhitungan usulan tarif tol dilakukan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang kemudian dievaluasi oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) berdasarkan data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) selama dua tahun terakhir.

”Secara aturan, itu ada di PP nomor 43 Tahun 2013, bahwa evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap 2 tahun oleh BPJT,” sambungnya.

Saat disinggung terkait, tidak adanya sosialisasi penyesuaian tarif yang dilakukan pihaknya kepada pengguna tol, Dadan menolak tudingna tersebut. Ia mengaku sudah melakukan sosialisasi sejak jauh-jauh hari. ”Kami sudah sosialisasi, melalui flyers, sosial media milik Jasa Marga, dan pamflet. Jadi tidak seenaknya melakukan penaikan tarif tanpa ada pemberitahuan,” ucapnya.

Dadan menjelaskan, dalam menyesuaikan tarif tol, pihaknya juga berupaya meningkatkan pemenuhan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM), diantaranya kondisi jalan tol, kecepatan tempuh rata-rata, aksesibilitas, mobilitas keselamatan. Selain itu ada unit pertolongan/penyelamatan dan bantuan pelayanan, serta kebersihan lingkungan maupun kelaikan tempat istirahat dan pelayanan (TIP).

”Kalau bisa dilihat, semua aspek yang menunjang kelancaran dan kenyamanan menggunakan tol selalu kami perhatikan, seperti penambahan lajur, peningkatan kapasitas dan layanan transaksi, peningkatan dan/atau penanganan kondisi sarana penunjang jalan tol, peningkatan layanan dan sarana prasarana lalu lintas, memberikan pelayanan informasi,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Dadan juga mengaku, pihaknya sudah memperbaiki pelayanan bagi pengguna jalan tol, seperti menambah gardu di GT Buah Batu, memajukan GT Pasteur untuk mengurai kemacetan, dan hal lainnya.

“Pasti masyarakat juga bertanya-tanya, kenapa sering sekali naik tapi tolnya gitu-gitu saja. Kalau diperhatikan, sudah banyak peningkatan pelayanan dan perbaikan yang kami lakukan. Yang terbaru ya itu, menggeser GT Tol Pasteur ke Cimahi,” pungkasnya. (ziz/ign)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.