Susahnya Mengakrabi Buku

76

HIDUP di zaman now yang serba digital, memang memberikan banyak keuntungan yang sangat luar biasa bagi kita. Apapun yang berhubungan dengan kebutuhan informasi, cukup ketik di mesin pencari google, maka apa yang dicari tersebut akan muncul semuanya. Tidak ada yang ribet ataupun susah dicari, jika kita bertanya kepada Kang Google.

Berkirim data penting, surat elektronik, foto, berbelanja, bahkan seminar online pun sudah banyak dilakukan. Apabila kita sebagai guru tidak bisa beradaptasi, kreatif, atau update akan semua kemajuan teknologi, maka kita bisa-bisa akan ditertawakan oleh murid sendiri. Mengapa? karena mereka sangat cakap sekali dalam menggunakan kecanggihan internet dan media sosial saat ini.

Nasib buku

Di satu sisi kita bersyukur dengan kemudahan saat ini yang segalanya ditunjang media internet dan media sosial. Namun, di sisi yang lain, ada satu hal yang kiranya penting kita singgung, yaitu pudarnya semangat memiliki dan membaca buku.

Saat ini, ketika guru sedang mengajar di kelas, kemudian ada satu materi yang kurang dipahami maksud dan keterangannya, tidak perlu susah-susah mencari kebenarannya di buku yang ada di perpustakaan sekolah. Akan tetapi, cukup buka handphone android, ketika apa yang hendak kita ketahui di kolom pencari google, maka jawabannya sudah tersedia dengan banyak pilihan.

Pada akhirnya, buku dengan genre apapun menjadi semakin ditinggalkan dengan sangat menyedihkan. Apa-apa yang hendak kita cari, kita para guru yang melek digital tidak mencari jawaban permasalahan di dalam buku, tetapi dari internet. Apakah salah? Tentu saja tidak. Hanya saja, kita terlalu nyaman dengan kemudahan digital, tetapi lupa kepada buku.

Sangat disayangkan bahwa buku sudah tidak lagi menjadi primadona yang menggairahkan untuk dibaca dan diakrabi, kecuali buku bahan ajar di sekolah yang harus dibaca dan dipelajari setiap hari, meskipun itu juga seseringnya karena terpaksa. Buku seolah-olah dianggap sebagai barang kuno dan orang yang membacanya diistilahkan sebagai orang yang ketinggalan zaman!

Coba kita perhatikan di lingkungan sekolah atau lingkungan pendidikan sejenisnya. Apakah banyak siswa atau guru yang akrab atau setidaknya memegang buku yang sedang dibacanya? Atau adakah siswa atau guru yang melihat dan memperlakukan buku layaknya seperti memperlakukan smartphone miliknya? Jarang sekali, atau bahkan tidak ada!

Selain harus akrab dengan dunia digital, guru ataupun siswa harus tetap istiqamah dalam memegang prinsip ilmu identik dengan buku dan mengakrabinya. Seperti halnya mengakrabi smartphone yang selalu dibawanya ke manapun pergi. Mengapa? Karena guru dan siswa tidak dipisahkan dari buku. Buku adalah segalanya!

Jika guru atau siswa mengandalkan seratus persen pasokan informasi dan pengetahuannya dari Mbah Google, dikhawatirkan nanti akan melahirkan ekses yang kurang baik. Sejatinya, kita jangan pernah melupakan buku sebagai penyeimbangan yang sangat akurat. Informasi dari internet, terutama media sosial, sifatnya instan, belum jelas terkonfirmasi kebenarannya, dan tidak jelas sumbernya dari mana.

Cintai buku

Mengulas masalah guru dan siswa yang dikaitkan dengan buku, memang terdengar klasik dan membosankan. Namun, jika hal ini tidak terus-menerus disinggung dan dibahas, maka guru dan siswa akan kehilangan teman sejati, yakni buku dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Bukankah ini sebuah kerugian bagi kita?

Sejatinya kita khawatir dengan konsekuensi ini, guru ataupun siswa lebih sedikit waktunya untuk membaca buku, tidak lagi mencintai buku, hanya mengandalkan bantuan internet, serta menganggap bahwa mencari ilmu dari buku itu sudah ketinggalan zaman. Kita khawatir bahwa kita akan lebih terpengaruh arus media sosial yang lebih cenderung berwatak simpel, sederhana, cepat, terlalu mudah dicekoki, gampang menyebarkan berita-berita yang tidak jelas sumbernya.

Insan-insan yang berprofesi guru ataupun siswa, harus mengakrabkan diri dengan buku, apapun kondisi dan alasannya. Mengapa? Beberapa diantara kegunaannya adalah untuk memperkuat daya logis dalam berpikir, matang dalam mengambil tindakan, tidak terburu-buru dalam menyikapi suatu masalah, dan kuat dalam argumentasi dan tentu saja akan disegani oleh kalangan siswa.

Akrab dengan gawai dan media sosial adalah wajib karena memang inilah saatnya digital memainkan peran penting itu. Namun, mencintai buku juga kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Jika semua orang memegang gawai, lantas siapakah yang akan memegang, membaca, mengakrabi, dan mencintai buku? Wallahu a’lam. Hanya Tuhanlah pemegang kebenaran yang sejati. ***

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.