SPG Institute Edukasi Pentingnya Digital

80
ANDY RUSNANDY/JABAR EKSPRES
MENGABDI: Ketua Panitia Workshop SPG Institute Oom Nurrohmah memberikan penjelasan peran SPG Institute pada workshop di SMPN Parigi.

PANGANDARAN – SPG Institute bekerja sama dengan Telkom Witel Tasikmalaya melatih para guru di Kabupaten Pangandaran untuk menguasai dunia digital. Pelatihan digelar di dua tempat, yakni di SMPN 1 Sidamulih dan SMPN 1 Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jumat (12/1). Kegiatan dilanjutkan dengan launching SPG Institute di Badeto Ratu, hari ini (13/1).

Rencananya, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata yang akan meresmikan organisasi tempat berkumpulnya lulusan SPG Negeri tersebut. Bupati akan didampingi inisiator SPG Institute Elih Sudiapermana yang juga merupakan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bandung dan Kadisdik Kabupaten Pangandaran Surman.

Dalam kegiatan kemarin, SPG Institute mendorong para guru untuk menguasai digital. Mereka menghadirkan pembicara dari Telkom Witel Tasikmalaya untuk mengedukasi pentingnya digitalisasi dalam dunia pendidikan.

Tampak para peserta work­shop antusias mengikuti ke­giatan. Bahkan, para guru praktik langsung melalui handphone masing-masing.

Ketua Panitia Workshop SPG Institute Oom Nurrohmah menjelaskan, kegiatan yang digelar selama dua hari ter­sebut merupakan bentuk pengabdian lulusan SPG Ne­geri kepada para guru dan masyarakat. SPG Institute, kata dia, mendorong guru untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Lihat Juga:  Perkarakan Wasit Giacomelli

”Kami berharap SPG Insti­tute berkembang secara kua­litas dan kuantitas. Diawali dengan workshop ini,” kata Oom yang juga merupakan Kepala Bidang Bina Perpus­takaan dan Budaya Gemar Membaca (BPBGM) di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi (Dispusipda) Jawa Barat dan lulusan SPGN tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana mengatakan, SPG Institute hadir di awal 2018 diharapkan mampu menjadi fasilitator tumbuh kembangnya komunitas guru pembelajar.

Menurutnya, guru profesio­nal percaya diri memiliki latar pengetahuan dasar ilmu men­didik dan pengalaman baik (best practices) selama men­jadi guru. Guru profesional selalu siap belajar dan mem­pelajari apa yang diperlukan dalam mengemban tugas sebagai guru sesuai per­kembangan.

”Guru profesional siap men­ghadapi tantangan perubahan dengan terus memantapkan diri menjadi pembelajar se­panjang hayat,” katanya.

Elih juga mengajak kepada semua guru untuk melakukan refleksi, tidak menunggu die­valuasi apalagi sekedar menung­gu hasil tes kompetensi. ”Ma­ri kita bersilaturahim, berkarya, berbagi, dan mengabdi. Profes­sional Learning Community, komunitas pembelajar guru professional di Finlandia dan negera-negara hebat lain telah terbukti menjadi alasan kema­juan mutu pendidikan,” katanya lagi.

Lihat Juga:  Harga Beras Berangsur Turun

Elih memaparkan, hadirnya perkembangan teknologi in­formasi dan komunikasi di Abad-21 telah menimbulkan berbagai perubahan yang begitu cepat di semua sektor kehidupan.

Sekadar kata ”jangan” sudah tidak ampuh lagi untuk men­jauhkan anak-anak dari ber­bagai informasi yang terus mengalir melalui berbagai media bervariasi. Mungkin siswa saat di kelas tanpa gad­get. Namun setelah keluar kelas mereka bermesraan dengan gawai.

”Oleh karena itu hal penting di era banjir informasi ini bukan saja bagaimana siswa dapat menguasai sejumlah informasi dan pengetahuan. Tapi, lebih kepada bagaima­na anak-anak memiliki ”ke­dewasaan” untuk memilah, memilih, bahkan mengkrea­si informasi yang konstruktif bagi kemajuan diri dan ling­kungannya,” kata Elih dalam tulisannya.

Lihat Juga:  Kejaksaan Sikapi Bijak RPP Anti Kriminalisasi

Untuk membekali anak-anak kita bisa sukses di kehidupan­nya ke depan, tidak cukup mereka dijejali dengan infor­masi dan pengetahuan, lebih penting mereka dikuatkan dalam kompetensi proses. Bu­kan sekadar kompetensi hasil apalagi jika hasil yang dimaksud hanya berupa kemampuan kognitif tingkat rendah.

Elih mengungkapkan, ko­mitmen terhadap tujuan pen­didikan yang hakiki menjadi keharusan bagi seorang guru professional, para pengelola, dan pengelenggara pendidi­kan. Komitmen bahwa pen­didikan adalah sektor pembangunan prioritas, uru­san wajib pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar warga negara, mengupayakan terus anggaran pendidikan 20 persen.

”Tentu itu semua merupakan komitmen yang baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Tapi, tanpa komitmen yang kuat akan tujuan pendidikan maka cara-cara yang ditempuh akan sangat pragmatis mengik­uti musim, mengikuti apa yang menjadi mainstream kebija­kan saat tertentu, yang kadang dirancang berbasis pada ke­rangka berpikir siapa yang berkuasa menyusun kebijakan, atau berbasis pada program dan kegiatan yang rutin dila­kukan. (and/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.