Recharge Guru

33

Lasting change comes from the core of your inner being (Debrahiks)

Setiap hari  kurva rutinitas keseharian kita akan mencapai puncaknya pada sekitar pukul 12.00.

Pada saat itu ada tiga lapar yang kita rasakan: lapar secara jasmani yang bisa dipenuhi dengan makan dan minum; lapar jiwa (soul) yang bisa diatasi dengan ngobrol, bercanda, menyapa orang-orang yang kita sayangi, rileks sejenak sekadar mendengarkan musik atau nyanyian, dll.

Terakhir, lapar rohani  yang dapat  dipenuhi dengan komunikasi transcendent kita dengan yang Maha Kuasa. Salat dan berdoa adalah salahsatu perwujudannya.

Setelah kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi akan terasa ada suasana segar kembali, ada kekuatan dan energi untuk membuat kurva aktivitas baru. Itulah perumpaan re-charge tubuh kita. Tubuh perlu disegarkan agar tetap terjaga ketahanan dan kebugarannya.

Begitu juga dengan profesi guru. Sebab, profesi guru akan menjamin berkembangnya peradaban suatu masyarakat. Maka, profesi ini perlu untuk terus di-charge, disegarkan dan dibelajarkan.

Kata profesi identik dengan kata keahlian. Sebab, mempunyai pengertian: seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur yang berdasarkan intelektualitas.

Dalam sejarahnya, guru di masa lampau adalah tokoh sentral di kelas yang selalu didengar kata-katanya. Berbeda dengan sekarang, posisi guru bukan lagi pemegang otoritas tertinggi di kelas. Guru sekarang adalah fasilitator, mediator, motivator, sublimator, inovator, kreator dll.

Substansi bergeser seiring dengan berubahnya  fungsi keguruan menjadi fungsi kebendaan yang  semakin menegaskan adanya tendensi  ”disorientasi keguruan”. Mengenai hal ini Arief Rahman (2018) mengingatkan perlunya re-charging kesehatan guru. Sebab, tidak sedikit guru harus dibaca peta kesehatannya seperti apa, baik fisik maupun mentalnya.

Selain itu terdapat  enam hal umum yang perlu diperhatikan, yaitu : (1) tingkat spiritual.  (2) mempunyai kekuatan intelektual dibidang studinya dan harus mumpuni; (3) harus mempunyai kepekaan emosional, harus cerdas bagaimana membawa diri di hadapan siswa: (4) harus profesional, yaitu profesionalisme yang dibangun dari nilai, etika, sikap, kebiasaan ilmu pengetahuan dan ketrampilan; (5) harus mempunyai kepekaan sosial.

Penyelenggara pendidikan baik pemerintah maupun masyarakat serta individu guru itu sendiri dengan penuh semangat dan kesadaran dapat melakukan re-charge ke enam hal di atas.

Recharge yang pertama dan sangat mendesak pada situasi kontemporer saat ini adalah reorientasi visi dan misi guru.  Abuddin Nata (2012) menguraikan perlunya re-charge terhadap lima hal yaitu:

Pertama: visi dan misi ulil al bab yaitu menjadi orang yang memiliki keseimbangan antara daya pikir dan daya nalar dengan daya zikir dan spiritual. Dengan daya ini, maka seorang guru mengemban misi mempergunakan dayanya itu secara optimal untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga keberadaannya tidak menjadi orang yang sia-sia.

Kedua: visi dan misi al-ulama. Dalam posisi ini guru bervisi sebagai  ulama yang mendalami ilmu pengetahuan melalui kegiatan penelitian terhadap alam jagat raya beserta seluruh isinya yang disertai keikutsertaan naluri intuisi dan fitrah batinnya untuk menyadari bahwa jagad raya yang dijadikan objek penelitiannya adalah ciptaan dari Allah SWT.

Sehingga dia menjadi seorang ilmuan yang senantiasa takut kepada Allah SWT, dan melaksanakan misi untuk menggunakan ilmunya itu untuk kemajuan masyarakat sebagai amanah Allah SWT.

Ketiga: visi dan misi al-muzakki. Yaitu menjadi orang yang memiliki mental dan karakter yang mulia. Sedangkan misinya adalah membersihkan dirinya dan anak didiknya dari pengaruh akhlak yang buruk serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Keempat: visi dan misi ahl al-dzikr yaitu menjadi orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki expert judgement, keahlian yang diakui kepakarannya. Sehingga dia pantas menjadi tempat bertanya, menjadi rujukan, dan memiliki otoritas untuk memberikan pembenaran atau pengakuan atas berbagai temuan ilmiah.

Sehingga dia akan mampu mengembangkan misi untuk memperbaiki, membimbing, meluruskan, dan mengigatkan serta memberikan keputusan atas perilaku yang dilakukan anak didiknya.

Kelima: visi dan misi al-rasikhuna fi al-‘ilm. Yaitu menjadi orang yang memiliki kemampuan bukan hanya pada dataran fakta dan data, inferensial, atau prestechen terhadap data dan fakta tersebut. Sehingga dia akan mampu memberi makna, semangat dan dorongan kepada anak didik dan masyarakat sekitarnya agar meningkatkan kualitas hidup dengan cara menghayati, memahami, dan mendalami makna yang terkandung didalamnya.

Ketika pendidik sudah di re-charge dan masuk ke area sebagaimana yang disebutkan  di atas, maka kendali sistem dan birokrasi pendidikan apapun tidak akan mampu menghalangi munculnya harapan mengubah paradigma pendidik di Indonesia untuk mewujudkan pendidikan abad 21.

Masih menjadi komitmen bersama bahwa  proyeksi pendidikan abad 21 meliputi tiga komponen utama yang mendasar yaitu pertama; Ahlak/karakter yang menyangkut dua hal utama berupa moral (iman, taqwa, jujur rendah hati dll) dan kinerja  (kerja keras, ulet, tangguh, tak mudah menyerah, tuntas dll) yang proses re-chargenya dapat  melalui reorientasi visi guru sebagai ulil al albab dan al-muzakki ; yang kedua adalah berpikir kritis (kreatif, komunikatif, kolaborasi)  yang proses recharge-nya dapat  melalui reorientasi visi guru sebagai al-ulama dan ahl al-dzikr dan ketiga literasi/ keterbukaan wawasan ( baca, budaya, teknologi, keuangan)  yang proses recharge-nya dapat  melalui reorientasi visi guru sebagai ahl al-dzikr dan  al-rasikhuna fi al-‘ilm .

Sejatinya reorientasi keseluruhan visi misi guru ini merupakan integrasi nilai-nilai visioner guru untuk mewujudkan proyeksi pendidikan abad 21 ini.

Pada akhirnya recharge guru dan tenaga kependidikan lainnya fokus pada upaya untuk mewujudkan pepatah “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini” Mari kita bersegera untuk membuat hari esok menjadi lebih baik.

Anies Baswedan (2018) mengatakan, ”Jangan terpukau dengan cerita masa lalu, gelisahlah dengan masa depan, gelisahlah dengan sekolah-sekolah terbaik dunia hari ini.”

Kemenangan itu dimulai dari ruang-ruang keluarga  dan di ruang-ruang kelas, besok perubahannya lebih cepat dan yang diketahui hari ini belum tentu ada profesinya di masa depan. recharge kompetensi guru melalui reorientasi visi dan misinya menyongsong pendidikan abad 21 adalah keniscayaan. Maka, di tangan para orangtua dan guru-gurulah kemenangan itu dipersiapkan .

*Asep Hilman, Kadisdik Jabar 2015-2016, Rektor Universitas Winaya Mukti Bandung P.2014-2016, Pemerhati pendidikan dan pengajar di Program Magister Prodi Pendidikan B.Indonesia Unpas dan Prodi Magister Manajemen Unwim Bandung.

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.