POTADS Minta Sarana Sekolah Inklusi Diperbanyak

39
IPAN SOPIAN/JABAR EKSPRES
PENANGANAN INTENSIF: Rina Niawati (kiri) anggota Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome (POTADS) kota Bandung saat memberikan pemaparan terkait down syndrome di Bandung Menjawab di Media Lounge Balaikota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, kemarin (6/3). Dia berharap pada masyarakat untuk tetap memperlakukan sama anak-anak pengidap down syndrome dengan anak-anak normal lainnya.

BANDUNG – Anak pengidap down syndrome harus diberi penangan khusus secara intensif. Hal itu dikatakan Rina Niawati, 43, anggota Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome (POTADS) kota Bandung.

Menurut Rina, penanganan anak tersebut dilakukan semenjak dia lahir bahkan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh harus dilakukan. Hal itu kata dia, untuk mendeteksi apakah ada kelainan pada organ lainnya, terutama jantung. Sebab menurut sebuah penelitian, 30 persen penyandang down syndrome memiliki gangguan pada jantungnya.

Down syndrome adalah kelainan genetik pada kromosom 21 yang menyebabkan perbedaan fisik maupun kemampuan intelektual pada manusia. Perbedaan ini dapat dideteksi sejak usia 2,5 bulan di dalam kandungan,” ujar Rina pada Bandung Menjawab di Media Lounge Balai Kota Bandung, kemarin (6/3).

Lihat Juga:  Prangko Dilan Mengajak Milenial Berkirim Surat

Lanju dia, secara fisik tidak banyak perbedaan antara anak down syndome dengan anak reguler lainnya. Mereka hanya memiliki keterbatasan dan keterlambatan dalam hal intelektual. Selebihnya, sama. ”Secara intelektual, anak down syndrome memiliki keterlambatan. Tapi mereka memiliki kemampuan lain yang juga tak kalah dengan anak reguler lainnya,” terangnya.

Selian itu, kata Rina harus ada penanganan khusus kepada anak down syndrome, khususnya dalam hal pendidikian. Karena lanjut dia, anak down syndrome memiliki kelebihan dalam satu hal dan terus melekat selamanya.

”Kami selalu menekankan bahwa anak down syndrome itu tidak boleh dihakimi tapi diberi kesempatan. Karena mereka punya kemampuan. Mereka, bisa melakukan apapun sama seperti kita, hanya memang lebih lambat saja,” pesannya.

Lihat Juga:  Febri Ngaku Kelelahan

Rina berharap agar pemerintah, bisa meyediakan sekolah inklusi khusus disabilitas inteletual yang bisa disatukan dengan anak normal lainnya. Harapannya, agar mereka bisa meniru hal-hal yang baik dari anak pada umumnya.

”Anak down syndrome ini, adalah peniru yang baik. Jadi, kita harap mereka tidak sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa, Red.). Tapi saat ini, sekolah inklusi negeri sangat sulit, tapi kalau inklusi fisik banyak, yang swasta ada. Tapi banyarnya mahal,” katanya.

Karena itu kata dia, untuk anak dwon syndrom disabilitas intelektual harus ada penanganan yang kontinu, dan stabil. ”Memang penanganannya agak lama. Tapi harus konsisten kalau misalkan waktunya azan salat ya harus salat. Jadi nanti mereka secara otomatis kalau dengar azan akan salat walupun sedang terapi,” ungkapnya.

Lihat Juga:  SMA Negeri 9 Renovasi Ruang Kelas

Dia juga mempertanyakan, lulusan PLB (Pendidikan Luar Biasa, Red.) yang setiap tahunnya cukup banyak, tapi tidak bisa diarahkan untuk menjadi guru pembimbing di sekolah negeri inklusi.

”Karena uru dari sekolah SLB juga belum tentu lulusan PLB. Saya nggak tahu pada ke mana lulusan ini (PLB). Padahal pendidik itu sangat perlu,” terangnya.

Dia juga berpesan pada orang tua yang memiliki anak down syndrome, agar tidak malu, tapi harus dijaga dan diarahkan sesuai bakat. ”Kita harus coba anak itu, bakatnya apa. Olahraga atau seni. Kita harus gali, karena tidak sedikit anak down syndrome yang bisa terkenal di bidang seni ataupun olahraga,” pungkasnya. (pan/ign)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.