’Panon Hideung Museum Market’ Berikan Nuansa Berbeda

16
BERIKAN SUGUHAN MENARIK: Salah satu pagelaran seni di Meseum Bandung menampilkan seniman dan pameran foto.

BANDUNG – Gelaran festival bertajuk ’Panon Hideung Museum Market’ memberikan suasana Museum Kota Bandung yang baru diresmikan tambah meriah. Sebab, dalam festival tersebut masyarakat diajak menikmati beragam kegiatan di antaranya pameran, kegia­tan dan penjualan buku, pemutaran film, fotografi dan musik.

Selain itu, ada juga pertunjukan tari, wayang, teater, fashion show, kopi, kuliner, produk antik & vintage, kriya dan lainnya, termasuk juga diskusi.

Kepala Museum Kota Bandung Her­mawan Rianto memaparkan, festival ’Panon Hideung Museum Market’ diselenggarakan guna menarik minat para pengunjung berlangsung selama dua hari sejak 3-4 Nopember 2018.

ads

Menurutnya, kegiatan ini merupa­kan dari berbagai program yang di­miliki Museum Kota Bandung guna menarik masyarakat berkunjung ke museum. Selain pameran koleksi museum, juga terdapat program populer berupa ’Pasar Museum’.

”Sesuai dengan judulnya, Pasar Museum adalah wadah kegiatan seperti pasar pada umumnya. Pasar Museum adalah bentuk ekonomi kreatif yang dilaksanakan oleh Museum Kota Bandung,” kata Hermawan disela festival ’Panon Hideung Museum Market’ di Bandung, kema­rin. (5/11).

Menurutnya, pihaknya sengaja me­nyematkan nama acara ’Panon Hide­ung’. Nama tersebut merupakan judul lagu populer dari lagu Rusia yang berjudul ’Ochi Chornye’ atau ’Dark Eyes’ dan diubah Ismail Marzuki da­lam bahasa Sunda pada tahun 1939 menjadi Panon Hideung.

Dirinya menyebut, lagu tersebut dibuat Ismail Marzuki sebagai pujaan untuk Euis Zuraidah seorang penya­nyi keroncong yang kemudian dini­kahinya pada tahun 1940.

”Lagu ini sangat ’sexy’ pada jaman­nya dan menjadi lagu yang selalu dilantunkan para pejuang juga men­jadi lagu favorit para gadis di mana mereka bisa mengekspresikan diri sebagai si pecinta sejati dan sang pu­jaan hati pada lagu tersebut,” kata dia.

Hermawan melanjutkan, seperti lagu-lagu pada umumnya sangat di­pengaruhi suas­ana zaman dan membawa ba­nyak jejak produk budaya seperti trend, gaya hidup, filosofi, ideologi, teknologi dan pengaruh budaya barat. Sehingga, lagu Panon Hide­ung tersebut men­jadi ’artefak’ dari sebuah era atau zaman.

Panon Hideung, dibuat tahun 1939’an, tapi karakter lagunya punya potensi dikemas dalam berbagai genre mem­buat banyak musisi memainkannya dan masih enak didengar serta dinik­mati hingga kini.

”Itu yang mendasari kita memilih Panon Hideung menjadi nama Pasar Museum atau Museum Market. Ke depannya berbagai kegiatan lain akan mengambil nama atau judul dengan karakter dan pertimbangan seperti itu,” kata dia.

Pada hari pertama, acara diisi pertunjukan pencak silat dan tari-tarian tradisional. Selain itu, ter­dapat juga diskusi dengan mengha­dirkan Profesor Sobana sebagai seorang narasumber yang mengang­kat sejarah Kota Bandung. Di malam hari, kegiatan tersebut diisi per­tunjukan seniman Sunda, yakni Jimbot and Friends.

Sebagai pembuka penampilan, Jim­bot memainkan suling dan kemudian dilanjutka dengan membawakan beberapa lagu tradisional Jawa Barat. Diiringi alat musik tradisional khas Sunda, Jimbot berhasil menghibur setiap penonton yang hadir di Mu­seum Kota Bandung.

”Saya ngerasa memiliki kebang­gaan karena ini museum Bandung. Kedua banyak sejarah. Ini sebuah kebanggaan bisa tampil disini,’’ kata Jimbot. (mg1/yan)

~ads~
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.