Pakai TNT, Guru Honor Protes

Untuk Transparasi Penggunaan Bosda

277
LAKUKAN DEMO: Ribuan guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun menuntut perbaikan hidup dengan memberikan gaji layak dan pengangkatan untuk menjadi PNS.

SOREANG – Permasalah guru honorer sepertinya sampai sekarang tidak kunjung terse­lesaikan. Sebab, setelah para guru honorer terus memperju­angkan statusnya, kini pem­bayaran gaji bagi guru Honorer menggunakan sistem non tunai.

Salah seorang guru Honorer yang enggan disebutkan na­manya mengatakan, dengan sistem Transaksi Non Tunai (TNT) sebetulnya tidak prak­tis dan menyulitkan. Terlebih, gaji guru horer yang diterima jumlahnya hanya ratusan ribu saja.

Dia mengatakan, penerapan cara ini terjadi karena adanya aturan dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang mengharuskan pembayaran tenaga honor tidak boleh tunai.

”Banyak guru yang diping­giran jauh dari akses Perbank­kan, sehingga untuk pengam­bilan honor ke bank bisa habis di jalan,” jelas dia ketika dite­mui kemarin (16/4). jelas salah satu guru honor di wilayah kecamatan pangalengan yang meminta namanya tidak di­publikasikan kepada jabar ekspres kemarin, (16/4).

Dia menyesalkan cara ini seperti ada penggiringan agar para guru honorer memiliki rekening bank yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabu­paten Bandung. Namun, cara TNT ini justru malah menyulitkan. Sebab, kebera­daan Bank atau ATM yang di jadikan rujukan ini hanya berada di pusat kota.

Kendati begitu, dia menga­kui ketentuan ini sebetulnya hanya guru-guru di yang ting­gal di pelosok daerah saja. Sebab, dengan adanya aturan baru ini, membuat para Guru Honorer yang tinggal di desa-desa harus pergi ke Kota ha­nya untuk mengambil uang ratusan ribu rupiah saja.

”Mestinya kalau mau penyaluran gajih honor dengan system TNT harus dilengkapi dengan sarana prasarananya yang optimal,” katanya

Terpisah Ketua Forum Komu­nikasi Guru Honor Sekolah Indonesia (FKGHSI) Kabu­paten Bandung Toto Ruhiyat mengatakan, atas berbagai keluhan ini pihaknya akan menyampaikan kepada dinas pendidikan dan DPRD.

Dia mengakui, tidak semua guru mengeluhkan. Hal ini, disebabkan kondisi guru ho­norer berbeda. Untuk itu, sebaiknya pemberian gaji guru honorer diberikan se­perti dulu lagi.

’’Dengan system TNT karena di pandak lebih efektif dan juga untuk menjungjung keterbu­kaan dan transparan,’’ kata Toto.

Kendati begitu, pihaknya sangat mendukung dengan sistem TNT ini. Sebab, peng­alokasian Bosda nantinya da­pat terkontrol dengan baik dan lebih transparan. (rus/yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.