Orkes Moral Pengantar Minum Racun Kembali Bangkit

Tetap Kocak Meski Sudah Lawas

138

Pada akhir 1970-an, Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) pernah populer dengan lagu-lagu parodinya. Lirik konyol dan ancur-ancuran. Kini, setelah 40 tahun berlalu, mereka kembali bangkit. Tetap dengan gaya lawas, tapi lebih segar. Cocok untuk generasi milenial.

TAUFIQURRAHMAN, Jakarta


MASIH ingat tragedi Bintaro 1987? Selain menimbulkan duka mendalam, juga sukses melahirkan cerita-cerita mistis yang menyelimuti ruas-ruas jalan sekitar persimpangan sebidang Jalan Bintaro Permai, Jakarta.

Banyak anak takut lewat karena termakan cerita bahwa di sekitar kawasan itu banyak arwah bergentayangan.

Sementara itu, Iwan Fals dan Ebiet G. Ade mengenang tragedi Bintaro dengan lagu bernada duka dan kesedihan, Ajie Cetti Bahadur Syah alias Om Aji bersama OM PMR malah sebaliknya.

Dia membuat suasana horor itu pecah dengan lagunya yang menceritakan manusia yang lewat kuburan dan bertemu hantu, tapi sang hantu yang pingsan karena bau badan si manusia.

Jumat (29/12) atau setelah 40 tahun berlalu, di lapangan basket gedung penunjang Ko­misi Pemberantasan Korupsi (KPK), lagu itu kembali sukses membuat penonton bergoyang dan tertawa. ”Pada malam Ju­mat Keliwon, aku pulang lewat kuburan…” Begitulah potong­an syair lagu Malam Jumat Keliwon itu.

Suasana manggung para personel OM PMR selalu khas. Tidak ada batasan antara penonton dan pemusik. Atau idola dan penggemarnya. Mereka berdiri berdekatan, menikmati musik sebagai satu kerumunan. Bisa ber­senggol-senggol ria sesukanya.

Para karyawan KPK yang sehari-hari adalah para penuntut, penyidik, pengaman, dan pengawal kasus-kasus korupsi bergoyang bersama dalam suasana yang pecah, ancur, tapi tetap asyik. Seba­gian besar malah belum kenal lirik yang dibawakan.

Bersama-sama, mereka mengerumuni enam musikus gaek. Jhonny Iskandar seba­gai vokal yang bernyanyi dii­ringi Boedi Padukone yang memegang gitar dan memain­kan rhythm. Imma Maranaan membetot bas, Ajie Bahadur mengecrek tamborin, Yuri Mahippal memainkan man­dolin, serta Harri Muke Kapur yang berkelana liar dengan dua gendang kecil melilit di pinggangnya.

Suasana ger-geran yang khas itu, cerita Ajie, terbentuk dengan sendirinya. Selama 40 tahun eksis, interaksi dengan penggemar selalu begitu. Suasana tersebut juga turut membentuk slogan dan filosofi OM PMR. ”Nyanyi bareng, joget bareng, dan ketawa bareng,” seloroh Ajie saat berbincang dengan Jawa Pos (Jabar Ekspres Group) setelah manggung.

Pertunjukan musik juga ha­rus dua arah. Ada dialog dengan penonton. Contohnya, Jhonny yang rada-rada ustad dan sedikit ”ngarab” itu mem­buka penampilan dengan salam yang fasih. ”Assalamu­alaikum warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah, wassholatu…” Sebelum akhir­nya dibentak oleh Boedi. ”Woy, mau nyanyi, bukan ceramah.” Geer…penonton pun tertawa.

Tidak hanya permulaan lagu. Tengah-tengah lagu juga tidak boleh absen dari dialog dengan penonton. Lagu Bintangku Bintangmu bercerita tentang tebak-teba­kan kepribadian berdasar zodiak. ”Bintang Gemini, maunya menang sendiri. Bin­tang Akuarium…(musik ber­henti)”. ”Salah lagi lu, Jhon, mana ada bintang akuarium.”

”Lha ini tulisannya akuarium, ni siapa yang nulis, sih?”

”Elu Jhon!” ”Abis makan ngakunya belum (musik ber­lanjut).”

OM PMR didirikan pada 1977. Di rumah Ajie Bahadur di Kebayoran Baru, Jakarta. Berangkat dari kesukan mang­gung di acara sekolah. Me­reka adalah saudara dan teman akrab. Mereka dahulu mengi­dolakan Rolling Stone, The Beatles, dan yang paling ut­ama, Koes Plus. Per 14 De­sember 2017, OM PMR resmi berusia 40 tahun. Total 22 album dan kompilasi berisi ratusan lagu mereka hasilkan.

Karena dianggap mampu merengkuh semua kalangan, enam pemuda eksentrik itu akhirnya memilih orkes Me­layu-dangdut sebagai jalan musik mereka dengan gendang kecil, kecrekan, dan petikan mandolin, gitar kecil mirip ukulele. Ada juga alat musik yang tidak ditemukan di grup mana pun. Yakni, harmonisir. Gabungan antara harmonika dan sisir.

Ceritanya, pada tahun per­tama berdiri, mereka manggung di Balai Sidang (sekarang Ja­karta Convention Center). Beberapa saat sebelum naik pentas, apes, Jhonny lupa mem­bawa harmonika. Tak kehabi­san akal, Jhonny mengeluarkan sisir dari balik saku jinsnya (hampir seluruh personel waktu itu menyimpan satu sisir di saku celana). Sisir itu dibung­kusnya dengan plastik. Lalu, dia mulai meniupnya seperti meniup harmonika.

Ada satu hal yang bikin OM PMR dikenal sebagai grup musik ”perusak” lagu orang lain. Yakni, kesenangan me­reka memarodikan lagu-lagu milik orang lain. Yang paling terkenal tentu lagu romantis Ratih Purwasih berjudul Antara Benci dan Rindu yang dihancurkan menjadi parodi getir sepasang suami istri yang kelabakan saat rumah mereka diterjang banjir. (*/c10/nw/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.