Nulis Suratnya Pakai Beibs Nggak?

Siswa SD Sambut Hari Lahir Istri Seokarno Inggit Garnasih

19
TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/JABAR EKSPRES
CINTAI TOKOH: Sejumlah siswa SDN 143 Kopo menunjukkan foto Inggit Garnasih dalam menulis surat cinta Untuk Ibu bangsa, kemarin.

Banyak cara untuk mengenang sekaligus memperkenalkan jasa pahlawan pada generasi muda agar membentuk karakter para penerus bangsa. Salah satunya yang dilakukan siswa SD 143 Kopo Jalan Ibu Inggit Garnasih, Kota Bandung. Mereka menulis ”Surat Cinta Untuk Ibu Bangsa”.

Igun Gunawan, Bandung

SUASANA ruangan di SD 143 Kopo, siang itu mendadak ramai. Puluhan pelajar kelas 6 SD  satu persatu mengambil kertas HVS berisi gambar sosok Inggit Garnasih dan Presiden Soekarno.

Mereka dipersilakan untuk menulis surat cinta. Tapi tunggu dulu, itu bukan untuk pacar, tapi untuk ibu bangsa Inggit Garnasih dalam kegiatan bertajuk ”Surat Cinta Untuk Ibu Bangsa” digagas Sekolah Ra’Jat Iboe Inggit Garnasih.

Gelak tawa tiba-tiba membahana, lantaran seorang siswa tiba-tiba nyeletuk. ”Ini teh kan lagi Valentine. Nulis suratnya boleh pake beibs nggak?” ujarnya.

Sontak saja siswa berbaju putih merah yang sedang serius untuk merangkai kata kata itu tiba-tiba dibuat tertawa terbahak-bahak. Keceriaan mereka terus berlanjut, meski dalam pikirannya mungkin saja sedang mencari diksi yang tepat untuk mencurahkan perasaan mereka pada Inggit. Sosok yang mereka kenal hanya dari foto yang terpampang di atas meja kayu sebagai alas mereka belajar.

Andi Syarif, salah seorang pengelola SR Iboe Inggit Garnasih menjelaskan acara semacam itu memang sengaja digelar untuk lebih mengenakan sosok Inggit Garnasih pada generasi muda. Dia menyebutkan kegiatan serupa pernah dia buat pada 2017 lalu.

Baca Juga:  Komunitas New Castle dan Lokra Gelar Aksi Treatikal

”Tujuannya agar siswa bisa mengenal lebih jauh sosok Ibu Inggit sebagai seorang pejuang kemerdekaan,” kata Sandi yang juga koordinator kegiatan.

Surat-surat cinta itu, nantinya akan dipilih yang terbaik. Kemudian sebut Sandi, saat dirinya berziarah ke makam Inggit Garnasih pada 17 Februari mendatang. Puisi itu nantinya akan dibacakan. ”Akan dipilih mana yang terbaik, untuk kemudian nanti dibacakan saat ziarah ke makam Ibu Inggit,” ungkapnya.

Disinggung kenapa memilih judul ”Surat Cinta untuk Ibu Bangsa”, dia menyebutkan 14 Februari momennya pas dengan hari Valentine.

”Anak-anak SD sekarang kan sudah mengenal cinta. Daripada mereka menulis surat cinta buat pacarnya, mendingan mereka nulis buat ibu bangsa,” sebutnya.

Sandi berharap dengan menulis surat cinta itu, para pelajar dapat mengenal lebih jauh sosok Inggit Garnasih sebagai seorang pejuang kemerdekaan. Apalagi sekolah mereka letaknya persis di belakang rumah Inggit Garnasih yang saat ini telah diabadikan sebagai museum.

Menurut dia, perjuangan Inggit Garnasih kurang diketahui oleh sebagian pelajar saat ini. Padahal, perannya tak sekadar menjadi pendamping Bung Karno semata, namun juga memberikan ide-ide untuk kemerdekaan Indonesia. ”Sosok Ibu Inggit Garnasih buat bangsa ini sangat dibutuhkan dan sangat penting untuk kita pelajari, pahami, dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” urainya.

Di balik perjuangan mengenalkan sosok ibu Inggit, Sandi mengaku kesulitan mencari referensi terkait sosok mantan ibu kos yang kemudian menjadi istri Bung Karno itu. Pengalaman itu langsung memicu kelompoknya mengedukasi pelajar. Dengan surat cinta, dia berharap para pelajar mengetahui sejarah dan perjalanan Inggit dalam membela dan memerdekakan negara ini.

Baca Juga:  17 Jam Menari Tanpa Henti

Sementara itu, di hadapan para pelajar, cucu Inggit, Tito Zeni, menjelaskan, neneknya merupakan sosok perempuan pejuang yang romantis dan memegang teguh prinsip dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. ”Jadi sosok Soekarno dan Ibu Inggit seperti koin yang tidak bisa dilepaskan satu sama lainnya,” kata Tito.

Tito menyatakan seluruh hidup Inggit Ganarsih, secara total diberikan pada Soekarno dalam mendukung seluruh perjuangannya.

Bahkan dikatakan Tito, neneknya itulah yang berperan besar menyokong kehidupan Soekarno saat dipenjara di Lapas Banceuy dan Sukamiskin Bandung. Saat Soekarno berada di penjara, Inggit berperan sebagai mata-mata serta pemberi informasi terkait situasi Indonesia saat ini.

”Ibu Inggit selalu membawa buku yang diminta Soekarno. Tapi sebelum memberi buku dia berpuasa selama tiga hari agar badannya mengecil sehingga buku bisa diselipkan dikebayanya karena penjagaan saat itu sangat ketat,” ceritanya.

Inggit pun dikenal sebagai sosok perempuan yang cerdas pada masanya. Untuk menyampaikan informasi pada Soekarno, selain lewat buku ternyata dia juga menyampaikan informasinya lewa telur.

”Ibu Inggit memberikan informasi (pada Soekarno) melalui sebuah telur yang diberi kode. Hanya Soekarno sendiri yang mengerti kode tersebut,” sambungnya.

Baca Juga:  Gulung Wolfsburg, Dortmund Tunda Pesta Juara Bayern Muenchen

Euis Ratna Juwika, salah seorang guru pengajar mengaku cukup senang dengan adanya kegiatan yang digagas SR Iboe Inggit Garnasih tersebut. Dia menyebutkan makin sering kegiatan tersebut diperkenalkan pada pelajar, apalagi pada siswa sekolah dasar, dia berharap siswa siswinya dapat lebih mengenal sosok Inggit Garnasih.

”Untuk siswa ini bagus bisa lebih tahu. Apalagi sekolah kita dekat dengan Museum Ibu Inggit,” ujarnya

Kegiatan itu juga dipandang dapat membentuk karakter yang baik bagi para penerus bangsa, karena mereka dapat mengenal sosok pejuang. Generasi muda bisa turut merasakan dan akan berusaha mempertahankan apa yang telah diperjuangkan.

Sansan Wiguna, siswa kelas 6 di SD tersebut dalam surat cintanya menulis jika sosok Inggit merupakan sosok yang setia mendampingi Soekarno untuk kemerdekaan Indonesia.

”Ibu Inggit kau selalu sabar dalam membantu Bung Karno dan sangat setia membantu Bung Karno sampai negeri ini merdeka, kau tetap setia.”

”Walaupun ibu harus bersusah payah sehingga negara ini bisa merdeka. Terima kasih ibu berkait ibu negara ini bisa merdeka.”

 Terima kasih ibu kau telah mengorbankan harta bendamu untuk Bung Karno dan negara ini. Terima kasih Ibu Inggit Garnasih yang telah bersusah payah untuk Bung Karno dan negara ini.” (rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here