Ngunduh Mantu Berkonsep Ramah Lingkungan di Jombang

144
ZERO WASTE: Pelaminan pasangan M. Ichwan Aziz dan Wahyu Laili terbuat dari ribuan botol plastik yang didaur ulang.

Sajian Minum dari Air Hujan yang Sudah Diolah

Umumnya, resepsi pernikahan dihias dengan bunga dan dekorasi lainnya. Tapi, itu tidak berlaku bagi pasangan suami istri M. Ichwan Aziz, 27, dan Wahyu Laili, 22, warga Dusun Kedungboto, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Pasutri itu mengusung pernikahan ramah lingkungan dengan menggunakan dekorasi botol bekas.

WENNY ROSALINA/RICKY VAN ZUMA, Jombang

PULANG dari ngunduh mantu di Dusun Kedungboto, Jombang, itu, tiap tamu pasti merasa seperti baru singgah ke toko tanaman. Betapa tidak, bukan gelas, dompet, atau sisir yang dibawa sebagai suvenir. Melainkan bibit kangkung dan bayam. Lengkap dengan komposnya pula.

Selama acara, juga tak ada suguhan air mineral dalam gelas plastik seperti lazimnya di sebuah hajatan. Haus? Ada air hujan kok!

’’Jika ada air minum berkualitas dari alam tanpa sampah dan gratis, kenapa harus beli? Air ini pH-nya 8, sekaligus edukasi untuk masyarakat juga bahwa air hujan itu bisa dikonsumsi setelah diolah,’’ kata M. Ichwan Aziz, pengantin pria, kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Kalau tampak tak lazim, harap maklum. Ngunduh mantu Ichwan dengan Wahyu Laili, 22, di Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, tersebut memang bertema ramah lingkungan.

Di desanya yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Jombang itu, Ichwan memang dikenal sebagai pegiat lingkungan. Pria 27 tahun tersebut aktif di komunitas Bara Muba (Barisan Anak Muda Balongsari).

Jadilah resepsi yang berlangsung pukul 10.00–12.00 kemarin itu zero waste. Alias tanpa menyisakan sampah sama sekali. Dekorasi kuade (pelaminan) pun dari botol-botol plastik yang didaur ulang.

’’Konsep dekorasinya ala-ala ecobrick. Sampah plastik itu cukup bahaya jika dibuang, ditimbun, atau bahkan dibakar,’’ ungkap Ichwan.

Ecobrick yang kini digemari banyak orang merupakan metode mengurangi sampah plastik dengan cara mendaur ulangnya menjadi barang berguna. Ichwan sengaja memilih ide itu untuk mengampanyekan hidup sehat.

Juga, mengajak masyarakat agar tak malas mendaur ulang sampah. Tujuan lainnya? Efisiensi tempat dan biaya.

Tapi, rencana Ichwan itu sempat ditentang orang tuanya. Rasa-rasanya memang tidak akan mudah meyakinkan orang tua mana pun untuk menghelat pesta dan para undangannya disuguhi air hujan. Dan, pulangnya disangoni bibit tanaman.

’’Bapak ibu jelas tidak terima. Ide saya dibilang ide konyol. Apalagi hari H pernikahan kami semakin dekat,’’ imbuhnya.

Laili? Ichwan memilih merahasiakannya dari pasangan hidupnya itu. Bukan karena takut ditolak. Tapi karena memang dimaksudkan sebagai kejutan.

Setelah diberi pengertian akan manfaat pernikahan yang ramah lingkungan, orang tua Ichwan akhirnya mendukung. Begitu pula Laili saat akhirnya diberi tahu hanya beberapa hari sebelum hari H.

Untuk suguhan air hujan, misalnya, Ichwan menjelaskan kepada orang tuanya dan Laili bahwa air tersebut siap minum. Sebab, air hujan itu sudah diolah dengan menggunakan metode elektrolisa.

Mengenai dekorasi, Ichwan mengakui, rencana awal acara ngunduh mantu itu akan berlangsung polosan saja. Tanpa dekorasi. Yang penting tak menyisakan sampah.

Namun, saat melihat rekannya memiliki koleksi bentuk ecobrick yang cukup banyak, Ichwan berubah pikiran. ’’Langsung saya izin untuk pinjam dan disusun bagaimana pantasnya agar jadi dekor,’’ ungkapnya.

Yang dipakai sekitar 1.800 botol. Semua sudah disusun sekitar dua tahun terakhir. Untuk menyusunnya, dibutuhkan waktu paling cepat setengah hari.

Untuk membuat ecobrick hingga menjadi sebuah dekor, dibutuhkan botol air mineral satu merek dengan ukuran yang sama. Kali ini yang dipakai Ichwan adalah kemasan 600 mililiter. Gunanya, bentuk ecobrick seimbang dan bisa digunakan sebagai pelaminan.

Di dalamnya sudah diisi guntingan plastik bekas makanan yang dimasukkan sepadat-padatnya. Jika dirasa sudah padat, baru digabungkan antara satu botol dan botol yang lain dengan lem tembak menjadi bentuk segi tiga, segi enam, dan lingkaran. Baru kemudian ditata sedemikian rupa menjadi susunan yang diinginkan.

Untuk kian mempercantiknya, Ichwan tak menggunakan tanaman hias atau bunga. Dia justru memanfaatkan sayur-sayuran.

Beberapa sayuran segar dalam polybag tersusun rapi di depan dekor. Di antaranya, kemangi, bayam merah, cabai, okra, dan bibit pohon sengon.

’’Jadi, selain ramah lingkungan dengan menggunakan botol plastik bekas, kita juga bisa kampanye ke masyarakat untuk makan sehat dari tanaman-tanaman organik yang juga kita pajang di depan,’’ imbuhnya.

Meski tak lazim, mungkin yang pertama di Jombang, para tamu toh mengapresiasi pilihan tema Ichwan. ’’Bagus, keren sekali, salut loh Mas Ichwan berani pasang dekor dari botol bekas dan sayur-sayuran. Apalagi orang sekarang justru berlomba-lomba memperindah dekornya dengan bunga-bunga plastik,’’ kata Vida, salah satu undangan yang hadir. Tentu saja sambil menenteng bibit kangkung dan kompos di tangan. (*/c5/ttg)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.