Mulai Karedok Leunca Hingga Wariskan Kontrakan

Aktivitas Para Korban Sebelum Meninggal Akibat Miras Oplosan

76
ISTIMEWA FOR JABAR EKSPRES
PERIKSA KONDISI: Dokter tengah melakukan pemeriksaan sejumlah korban yang dirawat di RSUD Cicalengka. Wartawan tidak leluasa mengambil gambar.

Ditengah duka mendalam Anih bercerita terkait kehidupan anaknya sebelum meregang nyawa akibat minuman keras. Bagaimana kisahnya berikut liputannya.

DN, 29. Satu-satunya perempuan yang menjadi korban tewas akibat minuman keras (miras) oplosan di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Nyawanya tidak tertolong meski sudah dalam penanganan medis RSUD Cicalengka.

Menurut Direktur RSUD Cicalengka, dr Yani Sumpena kebanyakan dari korban memang sudah dalam kondisi keracunan yang parah saat dibawah ke rumah sakit. “Tingkat keracunannya sudah parah,” kata Yani saat memberikan keterangan pers pada wartawan, kemarin (10/4).

Anih ibu korban tak kuasa menahan isak tangis, saat anaknya masuk belangkar RSUD Cicalengka pada Jumat (6/4) pagi. Perempuan 69 tahun itu mengaku shock, dan tak menyangka jika anak kelima dari tujuh bersaudara itu terlibat pesta minuman keras bersama teman-temannya di Cikaledong. Bahkan saat itu DN yang suka dengan makanan pedas itu, sempat ngaredok leunca, makan liwet, sambal dan petai.

”Kondisinya memang sudah sangat parah. Saat dibawa ke rumah sakit. Sebelumnya dia mengeluh sakit,” ungkapnya sambil menahan isak tangis di Kampung Warung Peuteuy, Desa Tenjolaya, Kecamayan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Karena kesukaannya itu pada makanan pedas, dirinya tidak menyangka jika keluhan sakit perut yang dialami anakanya imbas dari minuman keras. Apalagi dia memiliki riwayat penyakit lambung dan darah tinggi. Meski diakui, jika anaknya memang suka mengonsumsi miras. ”Suka minum, tapi tidak keseringan,” pungkasnya.

DN merupakan salahsatu dari 41 korban meninggal akibat miras oplosan di kecamatan Cicalengka, kabupaten Bandung. Akibat keadaan itu pemerintah setempat menetapkan kejadian luar biasa (KLB) Situasional.

Selain DN, korban miras oplosan lainnya R, sempat mewasiatkan kontrakan Dua kamar untuk biaya hidup anaknya. Wasiat itu diceritakan Asep Aen, kakak kandung R. Asep mengatakan, adiknya yang biasa disapa Hendi itu tiba-tiba menitipkan pesan untuk kelangsungan hidup kedua anak yang ditinggalkannya.

”Hendi berpesan hari Jumat itu, agar kamar kontrakan yang berjumlah dua kamar untuk biaya kebutuhan anak-anaknya,” kata Asep.

Asep juga menuturkan adiknya itu menunjukkan gelagat aneh sebelum meninggal dunia. Pada Sabtu malam sebelum meninggal dunia, adiknya menghabiskan waktu untuk mandi selama satu jam.

Menurut Asep, hal itu bukan kebiasaan Hendi. Apalagi setelah selesai mandi, Hendi tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan meminta maaf kepada istrinya.

Asep bercerita adiknya yang mengalami kejang dan mengaku kedinginan pada Minggu pukul 3 dini hari itu dibawa ke Rumah Sakit Humana Prima. Namun tak lama di rumah sakit tersebut, Hendi dipindahkan ke Rumah Sakit Al Islam karena kondisinya yang makin memburuk.

Tak dinyana itu adalah saat-saat terakhir Hendi bersama keluarga. Keluarga besarnya yang kebetulan berkumpul setelah menggelar hajatan pada Sabtu sore pun terkejut ketika mendengar kabar Hendi meninggal pada Minggu siang setelah paginya dilarikan ke rumah sakit.

“Kami sepakat jenazah langsung kami makamkan minggu sore karena keluarga masih berkumpul,” kata Asep.

Hendi meninggalkan seorang istri dan dua anak. Anak pertama Hendi sebentar lagi lulus SMA. Sedangkan anak keduanya masih balita berusia 4 tahun. (yan/nif/ign)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.