Model Pembelajaran Berbasis STEM dan Revolusi Industri 4.0

159

DINAS Pendidikan kota Bandung saat ini mulai meng­gagas model pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering dan Mathematics (STEM) yang diproyeksikan sebagai salah satu upaya un­tuk merevolusi pembelajaran masa depan di Kota Bandung. Seperti yang diungkapkan oleh Kasi PPSMP Disdik Kota Bandung (Bambang Ariyanto) beberapa waktu yang lalu (Jabar Express, 6/8/2018), tujuan dari pengembangan model pembelajaran ini ada­lah untuk menyiapkan pe­serta didik agar memiliki kemampuan yang menunjang kehidupan di abad 21 [1]. Selain di Bandung, model pembe­lajaran berbasis STEM juga telah mulai dikembangkan di beberapa daerah lain di In­donesia, seperti Jakarta dan Sumatera Selatan [2].

STEM saat ini tengah men­jadi isu penting dalam dunia pendidikan. Pendekatan STEM pada dasarnya mengintegra­sikan empat komponen ya­kni sains, teknologi, enjinering dan matematika ke dalam proses pembelajaran. Jika dahulu keempat komponen tersebut dipahami sebagai hal yang berbeda dan terpisah, maka sekarang komponen tersebut dintegrasikan seba­gai satu kesatuan yang saling terkait untuk menciptakan sebuah sistem pembelajaran aktif dan aplikatif berbasis problem solving.

Sebelum populer di Indo­nesia, pendekatan STEM se­benarnya telah diimplemen­tasikan terlebih dahulu oleh beberapa negara. Amerika Serikat sebagai pelopor pen­dekatan ini merupakan ne­gara pertama yang menerap­kan pendekatan STEM dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Diyakini berhasil dan membawa dampak positif dalam pembelajaran, STEM kemudian diadopsi oleh se­jumlah negara di Asia maupun Eropa, misalnya di Taiwan, Malaysia, Tiongkok, Finlandia dan Australia. Selama kurang lebih 3 tahun, STEM telah dikembangkan oleh negara-negara tersebut dan semakin signifikan di tahun-tahun terakhir.

Secara pribadi, penulis me­miliki beberapa pandangan atas rencana penerapan mo­del pembelajaran ini. Pertama, penulis menganggap peng­embangan model pembela­jaran ini adalah jawaban atas berbagai tantangan di abad ini. Jika dapat diterapkan dengan baik, bukan tidak mungkin model pembelajaran berbasis STEM akan bisa men­ciptakan generasi yang me­miliki kompetensi untuk bersaing. Seperti yang kita ketahui bersama, era revo­lusi industri 4.0 mensyaratkan generasi yang memiliki daya saing tinggi dan cakap dalam berbagai aspek. Era yang di­tandai dengan sistem cyber-physical ini telah mengubah cara manusia dalam hidup dan bekerja. Jika dulu kita harus keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan, namun sekarang hal tersebut tidak perlu dilakukan lagi. Saat ini dunia industri sudah meny­entuh dunia virtual, berben­tuk konektivitas manusia, mesin dan data tersebar di mana-mana yang dikenal dengan istilah internet of things (IoT). Sebagai konsekuensi dari hal ini, maka generasi muda saat ini harus dibekali dengan berbagai ketrampilan untuk bisa bertahan di era revolusi industri 4.0 antara lain digital literacy, berpikir kirtis (critical thinking), komu­nikasi (communication), ko­laborasi (collaboration) dan kreativitas dalam memecah­kan masalah (creativity in solving problems). Berbagai macam ketrampilan tersebut dapat dikembangkan oleh peserta didik melalui model pembelajaran yang aktif, kreatif dan inovatif, dan mo­del pembelajaran STEM sangat relevan dengan hal ini.

Kedua, penerapan model pembelajaran STEM meru­pakan sebuah langkah maju untuk membenahi sistem pendidikan kita. Selama ini, kita dihadapkan oleh berba­gai macam persoalan yang berkaitan dengan pendidikan, salah satunya adalah kualitas pembelajaran yang masih kurang baik. Dengan pende­katan STEM yang mendorong siswa untuk aktif dan berba­sis pada pemecahan masalah, maka persoalan tersebut ten­tunya bisa diminimalisir. Mengadopsi sebuah sistem yang telah berhasil diterapkan di negara lain dan terbukti efektif bukanlah sesuatu yang buruk. Banyak studi yang te­lah membuktikan efek positif pendekatan STEM terhadap pembelajaran. Sebagai contoh, penelitian Becker dan Park (2011) [3] membuktikan bahwa metode ini mampu melatih peserta didik baik secara kog­nitif, ketrampilan maupun afektif.

Jika dikaji lebih dalam, ten­tu akan banyak hal positif yang bisa didapat dari penerapan model pembelajaran berbasis STEM. Namun, hal ini juga memunculkan berbagai per­tanyaan. Seberapa siapkah kita untuk hal ini? Menging­at kita juga masih memiliki beragam pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, seperti pemerataan kualitas pendidikan, sarana dan pra­sarana serta peningkatan dan pemerataan kompetensi guru.

REFERENSI:

  • http://jabarekspres.com/2018/bambang-revo­lusi-model-pembelajaran-dimulai/
  • http://jabarekspres.com/2018/bambang-revo­lusi-model-pembelajaran-dimulai/
  • https://nasional.sindonews.com/read/1226155/144/indonesia-perlu-mengembangkan-pendi­dikan-berbasis-stem-1501592293
  • Becker, K., & Park, K. (2011). Effects of integrative ap­proaches among science, technology, engineering, and mathematics (STEM) subjects on students’ lear­ning: A preliminary meta-analysis. Journal of STEM Education: Innovations & Research, 12.

*Penulis adalah Guru di Pribadi Bilingual Boarding School

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.