Minat Tenaga Kerja Jabar Magang di Jepang Tinggi

284
SELEKSI KETAT: Sejumlah tenaga kerja Indonesia saat melakukan cek kesehatan sebelum mereka berangkat ke Jepang. Pada Tahun 2018 ada 339 pendaftar dari jumlah itu 223 lulus tes matematika, dan lanjut tes kesamaptaan dan yang lulus hanya 159. Menyusut lagi saat tes fisik menjadi 112 orang.

BANDUNG – Minat masyarakat Jawa Barat untuk magang di Jepang tetap tinggi. Berdasarkan data jumlah pendaftar maupun yang lolos dan berangkat magang di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

”Minat pencari kerja di Jabar ke Jepang masih tetap tinggi. Selain upah yang cukup tinggi, Jepang juga dianggap sangat ramah terhadap pekerja migran. Selain dari Indonesia, banyak juga pekerja dari Vietnam dan China bekerja  di Jepang,” diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif, pada Tes Ketahanan Fisik Bagi Calon Peserta Pemagangan ke Jepang di Sarana Olahraga ITB Jalan Tamansari Bandung, Rabu (11/4).

Ferry mengatakan, bila dilihat data jumlah pendaftar ada penurunan. Pada tahun 2015 jumlah pendaftar sebanyak 719 orang, tahun 2016 sebanyak 817 orang, tahun 2017 sebanyak 425 orang, pada tahun 2018 sebanyak 339 orang. Untuk tahun 2015 dan 2016 seleksi dilakukan 2 kali dalam satu tahun sehingga pendaftar cukup tinggi.

Namun bila dilihat dari jumlah pemagang yang berangkat ke Jepang justru mengalami kenaikan. Pada tahun 2015 sebanyak 131 orang (69 orang seleksi 1 dan 62 seleksi II), tahun 2016 sebanyak 174 orang (97 orang seleksi I dan 77 seleksi II), tahun 2017 sebanyak 112 orang.

Pada tahun 2018 ini jumalah pendaftar sebanyak 339 orang, yang lolos tes matematika sebanyak 223 dan lanjut tes kesamaptaan sebanyak 159 orang dan selanjutnya mengikuti tes fisik sebanyak 146 orang.

Tetap minat orang ke Jepang tinggi dan kebutuhan tenaga kerja magang di Jepang diprediksi mencapai delapan juta orang per tahun. Hingga saat ini kebutuhan tersebut belum terpenuhi, walaupun Jepang sudah membuka kesempatan bagi tenaga kerja magang dari sejumlah negara, termasuk Indonesia.

”Untuk itu, kita buka kesempatan magang di Jepang ini seluas-luasnya. Berapapun jumlah calon tenaga kerja magang yang dikirim dari Indonesia, mereka terima. Tidak ada batasan kuota karena kebutuhan mereka memang sangat besar,” ujarnya.

Setiap tahunnya, Jabar mengirim sekitar 100 orang tenaga kerja magang ke Jepang. Ada sekitar 90 jenis pekerjaan yang bisa diisi oleh tenaga kerja magang asal Indonesia. Peluang untuk menjadi tenaga kerja magang di Jepang terbuka luas. Hanya saja, persyaratannya memang cukup ketat, bukan hanya menyangkut wawasan, tapi juga kesehatan dan kesamaptaan fisik.

Ferry mengatakan, benefit yang bisa diperoleh lulusan program magang government to government (G to G) kerja sama Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) Indonesia dengan International Manpower Development Organization Japan (IM Japan) tersebut sangat besar. Bukan hanya dalam bentuk uang saku, tapi soft skill.

”Orang Jepang memiliki kedisiplinan dan etos kerja tinggi. Ini yang bisa dipelajari dan diterapkan sekembalinya dari Jepang.Setelah menyelesaikan program magang tersebut, para peserta program magang bisa kembali ke Indonesia dan menjadi entrpreneur atau bekerja di perusahaan Jepang,” katanya.

Dia menegaskan, biasanya lulusan program magang di Jepang lebih mudah diterima bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia. Selain itu, mereka juga bisa dengan mudah untuk melanjutkan kualiah di Jepang karena sudah memiliki pengalaman bekerja di sana.

”Kalaupun mau menjadi entrepreneur, modal mereka cukup besar. Setelah lulus, mereka akan mendapatkan bekal modal sebesar 600 ribu yen. Saat ini,  sudah banyak alumni program magang tersebut yang sukses menjadi entrepreneur di Indonesia dengan berbekal soft skill yang diperoleh selama di Jepang. Sektor usaha yang mereka geluti sekembalinya dari Jepang beragam, mulai dari kuliner hingga mesin,” tuturnya.

Sementara itu, pemilik  Fourspeed, Hilton Kurniawan, yang juga merupakan alumni program magang di Jepang, mengaku mendapatkan banyak bekal dari program magang tersebut untuk menjalankan usahanya di Indonesia. Ia mengaku, selama di Jepang kedisiplinan dan etos kerjanya terasah.

”Kedisiplinan, keteraturan, dan etos kerja ini yang saya terapkan dalam usaha saya di Indonesia dan terbukti berhasil membuat usaha saya tumbuh dan berkembang,” ujarnya. (*/rls/him/ign)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.