Menyiapkan Enam Bekal Mencari Ilmu

73

APABILA seorang peserta didik sedang mencari ilmu, maka jangan pernah merasa resah, gelisah, dan putus asa jika banyak rintangan dan halangan yang datang. Itulah romantika dan sekaligus tantangan dalam mencari ilmu. Dengan adanya rintangan dan tantangan itu, maka menjadikan peserta didik tersebut tahan banting dan tidak mudah patah semangat di masa yang akan datang.

Lalu, apakah ilmu yang dicari ilmu akan mudah dicari dan didapatkan dengan cara belajar dan banyak membaca buku? Bisa jadi. Namun, mari kita simak nasihat Ali bin Abi Thalib di dalam Ta’lim Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnuji, sahabat Ali berkata bahwa peserta didik tidak akan bisa memperoleh ilmu kecuali dengan dorongan enam perkara, yakni:

Pertama, punya kecerdasan. Cerdas dalam arti punya kemampuan untuk bisa menangkap pelajaran yang diberikan oleh guru-guru di kelas. Tidak pernah merasa putus asa dan selalu mencintai apapun yang sedang diajarkan oleh guru dari sisi yang positif. Dengan bekal cerdas dan mencintai pelajaran, maka ilmu itu akan mudah diserap oleh otak.

Kedua, punya semangat. Tidak cukup cerdas saja, melainkan semangat juga perlu dihadirkan sebagai satu di antara bekal yang harus dimiliki. Bagaimana ilmu akan cepat didapatkan bila semangat di dalam jiwa kita melempem, layu, dan loyo. Kesuksesan akan menjauh dari peserta didik yang tidak punya semangat dalam belajar. Ia akan miskin ilmu dan harta.

Ketiga, punya kesabaran. Belajar dan mencari ilmu itu adalah tahapan proses atau suatu rangkaian yang dimulai dari bawah terus sampai ke puncak. Orang-orang yang sukses, ulama-ulama saleh zaman dahulu, mereka bisa meraih dan mendapatkan ilmu yang tinggi karena faktor sabar dan tekun dalam mencarinya. Tidak ada yang ujug-ujug bias. Semua itu pasti mengalami tahapan yang harus dilewati.

Keempat, punya modal dan bekal belajar. Jika ingin sukses dalam mencari ilmu, tidak cukup hanya dengan cerdas, semangat, sabar, tetapi juga harus punya bekal. Misalnya dalam bentuk materi, buku, dan sebagainya. Jangan pernah beranggapan bahwa mencari ilmu itu mudah dan gampang bermodalkan duduk di bangku lalu mendengarkan guru. Tambahkan satu lagi dorongannya yaitu adanya bekal.

Kelima, adanya petunjuk/bimbingan guru. Jika kita sulit menyerap ilmu, tidak kuat dengan hafalan, kurang paham masalah penyelesaian masalah, maka jangan pernah lepas dari petunjuk atau bimbingan bapak dan ibu guru. Merekalah yang akan berperan sebagai pembimbing sekaligus orangtua yang akan mengarahkan anak didiknya dalam membantu mendapatkan ilmu. Maka dari itu, hormati mereka agar selalu ikhlas dalam membimbing anak didiknya.

Keenam, membutuhkan waktu dan proses. Apakah Imam Al-Bukhari menyusun kitab Shahih-nya itu sehari dua hari atau satu dua tahun? Oh tidak. Beliau menyusun kitab hadis terkenal itu sampai bertahun-tahun lamanya. Artinya, untuk menggapai kesuksesan dalam mencari ilmu butuh waktu yang tidak sebentar, karena ilmu terkadang butuh dipelajari lebih dalam lagi dari sekadar dibaca. Tidak simsalabim langsung dapat dan sukses menjadi orang hebat.

Jadi, antara dorongan dan modal kecerdasan, semangat, sabar, punya bekal, adanya petunjuk atau bimbingan guru, dan butuh waktu dan proses, harus menjadi poin-poin penting yang tertanam di dalam jiwa seorang pencari ilmu. Tujuannya tentu saja agar ilmu itu didapatkan dan diserap dengan baik, cepat paham dan tidak mudah lupa, serta diamalkan dengan ikhlas.

Selain keenam modal tersebut, pencari ilmu juga harus senantiasa menghormati guru. Disadari atau tidak, hormat kepada guru adalah satu di antara penyebab suksesnya seorang peserta didik dalam mencari ilmu.

Al-Qadhi Fakhruddin, seorang imam terkenal di daerah Marwa yang sangat dihormati ketika itu berpesan kepada para pencari ilmu, ”Aku mendapat kedudukan ini karena aku menghormati guruku, Abi Yazid Addabusi. Aku selalu melayani beliau, memasak makannya, dan aku tidak pernah ikut makan bersamanya.”

Zaman sudah berubah dan kemajuan ilmu sudah sangat pesat, tetapi adab dan menghormati orang yang telah bersusah payah memberikan ilmu kepada kita itu tetap penting. Selamat mencari ilmu dan camkan keenam bekal di atas. Meskipun terkesan klasik, tetapi tetap relevan untuk diamalkan di zaman now. Wallahu a’lam. Tuhanlah pemegang kebenaran yang sejati dan abadi.***

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.