Menulis: Bakat atau Keterampilan?

43

Menulis jika dilakukan secara benar, tak ada bedanya dengan kegiatan bercakap-cakap (Laurence Sterne – novelis).

Bambang Soegiharto
Guru SMP Negeri 51 Bandung

MENULIS merupakan sebuah kegiatan memadu kata yang kemudian menjadi kalimat-kalimat penyusun paragraf. Semakin banyak kata yang tertera, semakin banyak pula kalimat yang dihasilkan. Entah itu menulis artikel, rangkuman, esay, atau bahkan kerangan berupa puisi, cerpen, cerbung, dan Novel. Tanpa sadar, kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga paragraf demi paragraf yang terbentuk telah menjadi sebuah maha karya.

Menulis itu sulit, begitu kata sebagian orang. Menulis atau menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan mungkin menjadi hal yang cukup memusingkan. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa untuk menjadi penulis yang hebat dibutuhkan bakat atau bawaan dari lahir. Orang bilang bahwa untuk bisa “menulis” itu perlu bakat, yakni bakat menulis. Dengan bakat itu maka seseorang bisa terlihat piawai saat menulis, sehingga tulisannya pun terkesan cerdas, artistik, dan bernas.

Benarkah keyakinan tersebut? Apakah untuk jadi penulis memang perlu bakat? Atau ada alasan lain yang lebih rasional? Keterampilan misalnya (hal yang bisa dilatih)?

Kalau menulis dikatakan sebagai bakat bawaan dari lahir, bukankah terdengar mustahil jika orang mempunyai keterampilan menulis begitu dilahirkan? Sebenarnya, anggapan itu kurang tepat. Menulis itu bukan bakat tapi sebuah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih oleh semua orang.

Bakat dan minat itu dua hal yang berbeda, tetapi terkadang keduanya menyatu dalam diri seseorang. Ada orang yang berbakat menulis dan juga berminat menulis. Ada juga yang berbakat tapi tidak berminat. Sebaliknya pula ada yang berminat tapi tidak berbakat. Jadi, antara bakat dan minat harus disatukan untuk mencapai kesuksesan seseorang.

Jika seseorang berbakat menulis tapi ia tak berminat melakukannya maka tak akan ada tulisan yang bagus. Sebaliknya jika ada seseorang yang berminat tinggi untuk menulis tapi tak ada bakat untuk melakukannya juga tak akan ada hasil tulisan yang bagus. Lalu, bagaimana agar kita bisa menghadirkan keduanya (bakat dan minat) pada diri seseorang?

Semua penulis pasti belajar menulis dari membaca. Kita belajar bagaimana si penulis menuangkan gagasan dalam tulisannya. Kita juga belajar merangkai kata dan mampu memilih kata yang efektif, dan kita juga belajar bagaimana menggunakan kaidah-kaidah ejaan yang disempurnakan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Serta bisa membedakan penggunaan bahasa baku dan tidak baku. Semakin banyak membaca kita pun akan semakin banyak koleksi diksi untuk bahasa menulis. Referensi kita pun menjadi semakin luas. Karena penulis sejatinya adalah pembaca yang baik, yang ingin menyamai ataupun melebihi karya penulis yang sedang dibaca.

Semua orang yang normal punya kemampuan menulis. Contohnya, seseorang yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba ia mampu merangkai tulisan yang indah bagi sang pujaan. Orang yang lagi gundah, tiba-tiba saja mampu menuangkan uneg-unegnya dalam buku hariannya sampai berlembar-lembar. Orang yang menemukan sesuatu yang luar biasa, tanpa perlu berpikir mampu mendeskripsikan apa yang dilihatnya. Berapa banyak status di sosial media yang muncul setiap harinya, semuanya berbentuk tulisan yang berisi curahan hati masing-masing, tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan tercurah dalam bentuk sebuah tulisan.

Contoh lain, ketika masih duduk di bangku sekolah, pernahkah kita diminta untuk menuliskan pengalaman pribadi, liburan misalnya? Sebagian atau mungkin kita semua tentu dapat menuliskan beberapa paragraf yang menceritakan tentang perjalanan liburan kita, meskipun dengan gaya bahasa dan cara penyampaian yang sangat sederhana. Seiring semakin dewasanya cara berpikir kita, semakin banyaknya hal-hal yang kita pelajari, dan semakin banyak pula perbendaharaan kata yang tersimpan dalam otak kita, tentunya akan semakin berkembang pula tukisan kita, jika diasah dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang bisa dipelajari, sama halnya dengan berbicara.

Jadi, jika seseorang sudah berminat untuk menulis tapi merasa tak punya bakat melakukannya, hendaknya segera melatih dan membiasakan diri terus berlatih menulis. Menulis apa saja hal yang dirasakan, atau menulis hal yang dikuasai. Setiap orang punya potensi bisa menulis. Tapi, tak semua orang berminat menekuni budaya menulis ini, mungkin mereka belum menemukan manfaat dari menulis.

Faktor utama dalam menghambat seseorang dalam menulis adalah ketekunan menulis itu sendiri. Dengan kata lain, semakin sering kita (berlatih) menulis, semakin terasah juga kemampuan kita dalam menulis, begitupun sebaliknya. Faktor lainnya adalah perasaan ragu yang selalu muncul setiap kali kita ingin menuangkan gagasan kita dalam sebuah tulisan. Menganggap tulisan kita jelek, pemilihan kata yang tidak tepat, dan lain sebagainya. Yang terakhir yang sering luput dari perhatian kita adalah kurangnya membaca. Padahal, sering membaca juga akan mempengaruhi pola pikir dan gaya tulisan kita, sekaligus akan semakin menambah perbendaharaan kata dan menambah wawasan yang tentunya sangat dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis.

Ketika ingin menulis, mestinya kita punya tujuan terhadap para pembaca yang akan membaca tulisan kita. Namun, untuk bisa menulis dengan lancar sesuai dengan ide yang muncul di kepala kita, cobalah hilangkan pemikiran bahwa tulisan kita harus sesuai dengan ekspektasi pembaca. Dengan kata lain, tulis saja semua gagasan yang muncul. Lupakan tentang tulisan yang sempurna. Tulislah sesuai kata hati kita. Tanamkan di kepala kita bahwa menulis adalah menyampaikan pesan dalam bentuk tulisan.

Kesimpulannya, menulis lebih tepat dikatakan sebuah keterampilan berbahasa. Bakat bukanlah menjadi faktor penentu bisa tidaknya seseorang menulis. Kepandaian menulis lahir dari seringnya berlatih. Jadi, jangan jadikan menulis sebagai beban, karena pada hakikatnya menulis adalah bagaimana menyampaikan sebuah pesan atau gagasan dalam bentuk tulisan. (*)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.