Menangkal Degradasi Nilai

22

MENJELANG berakhirnya tahun 2018 ini, bangsa kita dihebohkan dengan berbagai peristiwa yang mendegrada­sikan nilai-nilai kemanusiaan kita sebagai bangsa yang ber­budi pekerti luhur. Hampir setiap saat, media-media nasional baik online, cetak maupun televisi memberita­kan berbagai peristiwa me­nyedihkan tersebut. Ini se­macam fenomenal sosial yang sedang melanda bangsa kita.

Salah satunya adalah kasus pembunuhan tragis satu kelu­arga di Bekasi Jawa Barat pada per tengahan bulan November 2018 ini. Polisi akhirnya berhasil menangkap tersangka dan membongkar motif pembunuhan.

Menurut pengakuan ter­sangka, korban dibunuh ka­rena merasa sakit hati, sering dihina oleh korban. Beberapa hari berselang, media-media nasional baik elektronik mau­pun cetak memuat berita pembunuhan mantan warta­wan senior dan pemandu lagu karaoke di Jakarta. Kasus-kasus ini membuat polisi bekerja ekstra keras.

Dalam sekejab, berita-beri­ta menyedihkantersebut me­lengkapi pemberitaankeber­hasilan KPK menangkap tangan salah satu pejabat daerah yang terindikasi mela­kukan tindak pidana korupsi, penyebaran hoax secara ma­sif di media sosial, adu mulut politisi nihil etika di layar kaca, minimnya role model politisi dalam hidup berne­gara dan berbangsa, peman­faatan politik identitas untuk kepentingan politik. Ini ada­lah fenomena sosial yang menjerat bangsa kita akhir-akhir ini. Berbagai fenomena sosial yang membuat miris hati tersebut patut menjadi bahan refleksi untuk segenap anak bangsa.

Beberapa pertanyaan yang menjadi refleksi bersama an­tara lain: Apakah nilai-nilai agama, kemanusiaan dan kebudayaan yang menjadi pegangan hidup kita menga­lami degradasi? Mengapa terjadi degradasi nilai dalam kehidupan bersama? Apa solusi yang mau ditawarkan?

Degradasi Nilai

Menurut KBBI (Kamus Be­sar Bahasa Indonesia), de­finisi degradasi adalah kemunduran, kemerosotan dan penurunan, sementara nilai adalah nilai untuk manusia sebagai pribadi yang utuh, berhubungan dengan kejujuran, akhlak, benar atau salah, dan mu­tu yang dianut oleh go­longan atau masyarakat.

Jadi, degradasi nilai adalah kemunduran atau kemerostan nilai-nilai kemanusiaan, hi­langnya nilai-nilaikejujuran, akhlak, atau kualitas hidup yang dianut oleh masyarakat.Kemunduran nilai terjadi ka­rena penyangkalan terhadap nilai-nilai hidup yang men­jadi pegangan dan pedoman hidup untuk menjaga kelangs­ungan hidup bersama.Se­cara per lahan dan pasti de­gradasi nilai menyebabkan hancurnya tatanan sosial di masyarakat. Manusia hidup seolah tanpa aturan. Di sini berlaku kata-kata Thomas Hobbes, homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya).

Dalam konteks bangsa kita akhir-akhir ini, indikasi terjadi­nya degradasi nilai dalam ruang-ruang publik telah mencapai puncaknya. Ini adalah semacam fenomena gunung es. Kekera­san fisik karena motif sakit hati dan ekonomis, perilaku korupsi para pejabat, infor­masi hoax yang membabi buta, pertengkaran di ruang-ruang publik oleh para politisi, minimnya role model dan sikap merasa bersalah politisi men­jadi indikasi awal terjadinya degradasi nilai dalam lingkup sosial.

Terjadinya degradasi nilai bukan tanpa sebab. Bangsa kita yang selama ini gigih membangun di segala aspek demi mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain, ter­nyata mengalami kekeroposan. Kita keropos dalam hal inter­nalisasi nilai-nilai luhur, nilai agama dan nilai kemanusia­an dalam hidup bersama. Secara ringkas penulis mem­berikan catatan yang men­jadi penyebab terjadinya degradasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai berikut.

Pertama, hancurnya fonda­sinilai-nilai kemanusiaan (memperlakukan orang lain sebagai sesama, mengasihi sesama, menolong, rasa me­miliki, rendah hati, solidaritas, dll) dan digantikan oleh mo­tif ekonomis yang menjadikan manusia sebagai sarana dan alat produksi yang dapat diu­kur dengan nilai nominal uang. Akibatnya, orang menjadi serakah demi mengejar ke­kayaan sebanyak-banyaknya 9motif ekonomis) termasuk menghalalkan segala cara dengan menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan untuk tu­juan ekonomi.Kedua, han­curnya fondasi hidup keluarga(keimanan dan ke­takwaan, saling mencintai, kebersamaan, komunikasi, perhatian, dll) dan digantikan oleh sikap individualisme yang melanda keluarga-keluarga modern.

Anggota keluarga sibuk ber­kelana di medsos, main gad­ge daripada mengajarkan anak-anak perihal keimanan dan ketakwaan, membangun kasih dan memberikan per­hatian. Anak-anak kehilangan jati diri dan kehilangan stan­dar moral dalam berperilaku.Ketiga, minimnya ketelada­nanhidup. Sebagian orang dewasa, pejabat, politisi kurang memberikan keteladanan hidup dalam berpikir dan berperilaku kepada generasi muda. Ruang-ruang publik didominasi perilaku koruptif, sikap anarkis, pertengkaran/adu mulut, hoax, dll.

Perilaku ini menjadi standar moral untuk anak-anak muda dan mereka meniru apa yang mereka lihat

Keempat,Relativisme ter­hadap norma-norma hukum. Sebagian masyarakat kurang respek dan abai terhadap aturan hukum. Mereka me­rasa hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Hukum hanya berpihak ke­pada kaum the have dan tegas kepada orang-orang miskin, kelompok marginal. Akibatnya mereka bertindak sekehendak hati, tanpa merasa takut un­tuk berperilaku korup dan berbuat kejahatan.

Keempat hal ini merupakan penyebab semakin merosot­nya tata nilai dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ini hanya fenomena gunung es yang harus segera diatasi per­masalahannya.

Menangkal Degradasi Nilai

Negara kita membutuhkan upaya preventifuntuk menang­kal degradasi nilai yang me­landa kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemunduran tata nilai dalam pola perilaku sudah sangat akut dan mem­butuhkan gerakan bersama (total action) untuk mengang­kat harkat dan martabat bang­sa sebagai masyarakat yang bernilai dan berbudaya luhur. Di bawah ini beberapa solusi yang menjadi bahan pemikiran penulis sebagai berikut.

Pertama, pendidikan nilai dalam keluarga. Keluarga ja­man now perlu memahami tujuan membangun hidup keluarga. Hidup berkeluarga dibangun atas dasar kasih kepada pasangansuami, istri, anak-anak, dan orang tua. Maka nilai-nilai dalam hidup berkeluarga seperti sikap mengasihi, keimanan, men­ghargai, kebersamaan, per­hatian dan kasih sayang di­tegaskan kembali. Gadget tidak mampu menggantikan kasih sayang dan perhatian orang tua, anak-anak merasa dicintai dan dihargai apabila orang tua memperlakukan mereka dengan penuh kasih dan keberadaan mereka di­hargai, uang/kekayaan tidak mampu menggantikan relasi manusia dengan Tuhan. Sejak dini anak-anak dibentuk un­tuk memiliki nilai-nilai kasih, keimanan, penghargaan, me­nolong, sikap berbagi, rela berkorban. Nilai-nilai tersebut ditekankan agar anak-anak yang dibentuk memiliki nilai kemanusiaan universal. Ke­dua, keteladanan hidup.

Para pejabat, politisi dan orang tua membangun kete­ladanan hidup yang baik ke­pada generasi jaman now. Ruang-ruang publik perlu dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang bersifat membangun, saling meneguhkan dan menguatkan, menginspirasi, berdebat tanpa harus berkata kasar, mengungkapkan penda­pat tanpa harus memojokkan dan merendahkan.

Keteladanan ini menjadi gerakan bersama agar gene­rasi muda merasakan dan mempraktekkan hal-hal baik dalam hidup.Ketiga, penega­kan hukum yang tegas dan berkeadilan. Hukum harus tegas terhadap pelaku ko­rupsi dan tindakan kriminal di tengah-tengah masyarakat. Pemberian sanksi atau huku­man dipertimbangkan se­cara seksama untuk menim­bulkan efek jera.

Selain itu, penegakan hukum didasarkan pada rasa keadilan, memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi hak. Hukum tanpa pandang bulu. Kelompok-kelompok margi­nal mendapatkan hak me­reka sebagai manusia. Keem­pat, penegasan pentingnya pendidikan Pancasila di se­kolah. Negara kita darurat pemahaman nilai-nilai Pan­casila.

Pendidikan Pancasila perlu mendapatkan tempat isti­mewa dalam dunia pendidi­kan kita. Tujuannya agar nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila tersebut sungguh-sungguh diamalkan dan diimplementasikan dalam kehidupan peserta didik di sekolah, sehingga peserta didik memiliki pegangan hidup dalam berpikir, bertindak, dan bertutur kata di sekolah, kelu­arga, dan masyarakat. Pe­serta didik merasakan sendi­riinternalisasi nilai-nilai to­leransi, saling menghargai, berbuat adil, menjaga per­satuan, musyawarah, dan pengakuan terhadap keane­karagaman.Setiapanak di­dik untuk saling menghar­gai, saling membantu satu sama lain.

Degradasi nilai perlu diatasi bersama-sama. Keluarga, se­kolah, masyarakat dan agama bergandengan tangan untuk mendidik dan mengininterna­lisasikan nilai-nilai hidup yang telah menjadi pedoman hidup bersama sehingga ke depan kita menghadirkan generasi- yang beriman dan takwa, ber­perilaku teduh, lemah lembut, taat hukum, menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan panca­silais, mau hidup bersama sebagai sesama anak-anak bangsa.

Marinus Waruwu, Kandidat Doktoral Administrasi Pen­didikan Universitas Pendidi­kan Indonesia, Spesifikasi Kajian Research Kepemim­pinan Pendidikan. (*)

*Kandidat Doktoral Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia

Spesifikasi Kajian Research Kepemimpinan Pendidikan

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.