Membangun Sinergitas Karakter Moral dan Sikap dalam Pendidikan Zaman Now

52

FANTASTIS, seorang Nabi Muhammad SAW dinobatkan menjadi orang yang  berada pada peringkat pertama dan paling berpengaruh di dunia sampai saat ini. Bagaimana tidak, semua itu diakui semua kalangan di berbagai etnis, agama maupun golongan. Benang merah yang bisa diambil dari pribadi beliau adalah terjadi sinkronisasi dan kristalisasi antara nilai dengan perbuatan sehingga terwujud tatanan kehidupan masyarakat yang penuh dengan kenyamanan, hidup harmonis, terjadinya keseimbangan dalam hak dan kewajiban, dan masih banyak hal-hal yang lain dalam ruang lingkup menuju tren positifnya.

Dalam dunia zaman now, atau istilah di dunia pendidikan saat ini pengejawantahan sinkronisasi nilai dengan perbuatan diatas, di copy-paste ke dalam rumusan yang dinamakan dengan ”pendidikan karakter”. Mantan Menteri Pendidikan dalam Kabinet Kerja Anis Baswedan pernah mengutarakan bahwa karakter ini merupakan salah satu pijakan sebagai bahan proyeksi kebutuhan masa depan pendidikan pada abad ke-21. ”Karakter itu terbagi ke dalam dua bagian, ada yang dikategorikan karakter moral seperti iman, jujur, tidak sombong, rendah hati, dan sebagainya. Yang kedua yaitu karakter kinerja atau sikap seperti tanggung jawab, kerja keras, disiplin, saling tolong menolong, kerjasama,” ungkap Anis.

Dalam kesempatan yang sama juga, dua karakter ini harus ada perpaduan diantara keduanya antara moral dan kinerja atau sikap, karena bagaimana bisa terjadi keseimbangan nilai kalau hanya baik dalam satu karakter saja. Contohnya apabila ada guru jujur kalau sikapnya malas, mau bagaimana? Atau ada anak disiplin kalau moralnya tidak sopan bahkan cenderung melawan kepada guru bahkan bisa sampai mengadu ke orang tuanya sehingga bisa terjadi persekusi, mau bagaimana juga? Hal itu tentunya tidak bisa dibiarkan, harus dicari solusi agar dua-duanya saling mengisi dan akhirnya terjadi balancing dalam berperilaku dan penuh dengan etika.

Mahatma Ghandi ( Soedarsono, 2010) menggambarkan betapa tidak pentingnya perpaduan antara moral dan sikap, beliau mengutarakan ada 7 dosa yang mematikan (the seven deadly sins), yaitu : (1) semakin merebaknya nilai-nilai dan perilaku memperoleh kekayaan tanpa bekerja (wealth without work); (2) kesenangan tanpa hati nurani (pleasure without conscience); (3) pengetahuan tanpa karakter (knowledge without character); (4) bisnis tanpa moralitas (commerce without ethic); (5) ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan (science without humanity); (6) agama tanpa pengorbanan (religion without sacrifice); dan (7) politik tanpa prinsip (politic without principle).

Gambaran di atas merupakan sebuah kenyataan yang sudah terjadi, lalu bagaimana peran pendidikan? Apa kendalanya? Pertama, sistem pendidikan yang kurang menekankan pembentukan karakter, tetapi lebih menekankan pada pengembangan intelektual. Kedua, kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembangunan karakter yang baik.

Berkaitan dengan hal itu, maka membangun sinergitas karakter moral dengan karakter sikap ini perlu di planning dengan baik dan terkonsep dengan jelas disertai dengan alat evaluasinya. Dalam implementasinya, pendidikan karakter umumnya diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada aspek intelektual, tetapi menyentuh pada moral individu dan pengalaman yang nyata dalam kehidupan mereka di masyarakat.

Selain itu untuk mencapai sinergi yang baik, maka minimal ada 2 hal yang harus kita lakukan dalam artikel ini yaitu, doktrinisasi dan habituasi. Dalam doktrin dikembangkan adanya intervensi dan interaksi pembelajaran yang dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan karakter. Dalam habituasi pembisaan yang mengarah pada pembudayaan diciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan para peserta didik dimana pun berada membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan telah menjadi karakter dirinya. Proses habituasi ini diperlukan kerja keras semua komponen sekolah agar nilai itu menjadi budaya, tidak hanya guru dan peserta didik, orang-orang yang ada disekitar sekolah harus bisa menyesuaikan dengan kebijakan yang sudah dibuat oleh sekolah, seperti petugas kebersihan, orang kantin, penjaga sekolah, jemputan, agar terjadi persepsi yang sama. Contoh ketika ada kebijakan di area sekolah ada larangan merokok, maka bukan hanya guru dan peserta didik yang harus mematuhi, akan tetapi semua yang berkaitan dengan sekolah tersebut harus mematuhi juga demi terciptanya sinergitas aspek intelektual dan internalisasi nilai. Terakhir aspek evaluasi dilakukan asesmen untuk perbaikan berkelanjutan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik.

Pendidikan zaman now adalah sebuah keniscayaan yang bisa mensinergikan karakter moral dan sikap di atas. Let’s go!***

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here